Home Berita Metropolis Bukan Tak Mau Berubah, Tapi Tak Mampu: Kisah Pilu Penarik Becak Lansia di Sampit

Bukan Tak Mau Berubah, Tapi Tak Mampu: Kisah Pilu Penarik Becak Lansia di Sampit

  Sugianto   | Kamis , 24 Juli 2025
c980f0902511acb967516990ef9a9e7c.jpg
Pacitan (63), penarik becak kerap mangkal sekitar PPM Sampit, saat diwawancarai.

KLIK.SAMPIT – Di tengah hiruk-pikuk Pasar Pusat Perbelanjaan Mentaya (PPM) Sampit, seorang pria paruh baya tampak duduk di atas becaknya. Wajahnya sudah cukup renta, kulitnya legam terpanggang matahari, dan baju kaus kampanye calon presiden melekat di tubuh ringkihnya. Dialah Pacitan, 63 tahun, penarik becak yang setia mengayuh roda nasibnya selama hampir seperempat abad.

Pagi itu, ia hanya bisa memandang lalu lalang orang tanpa satu pun yang menghampirinya. Sesekali matanya mengarah ke jalan, menatap kosong saat ojek online (ojol) berlalu dengan penumpang.

"Dulu, kami yang dicari. Sekarang, orang lebih memilih ojek online. Tinggal klik, langsung dijemput," tuturnya pelan, Kamis (24/7).

Pacitan bukan tak tahu zaman telah berubah. Ia sadar, kemajuan teknologi menciptakan kenyamanan yang tidak mampu ditawarkan oleh becak tua miliknya. Namun, dengan tubuh renta dan keterbatasan fisik, ia tak punya pilihan lain.

Sebagai penarik becak yang telah mengayuh sejak tahun 2000, Pacitan mengaku dulu bisa membawa pulang uang cukup untuk kebutuhan sehari-hari. Kini, ia harus puas dengan penghasilan tak menentu, kadang tak sampai Rp30 ribu per hari, bahkan tak jarang tak membawa apa pun.

"Kadang dalam sehari enggak narik sama sekali. Kalau beruntung, ada ibu-ibu atau nenek-nenek yang naik," ucapnya, seraya meneguk air dari botol plastik bekas.

Ia tak menetapkan tarif. Semua berdasarkan jarak dan kesepakatan. "Seikhlasnya saja. Kadang Rp5.000, kadang Rp10.000. Ya, tergantung penumpang," katanya.

Pacitan paham, teknologi telah mengubah wajah transportasi. Tapi untuknya dan teman-teman seprofesi, berubah bukan hal mudah. Sebagian besar penarik becak adalah lansia, tak memiliki keterampilan digital, dan fisik pun sudah tak lagi kuat untuk pekerjaan berat lainnya.

"Saya mau kerja bangunan sudah enggak kuat. Mau kerja lain, enggak ada keahlian. Jadi ya ini saja, nunggu ada yang kasihan," ucapnya lirih.

Pacitan adalah potret ketertinggalan yang nyata di tengah modernisasi. Becaknya kini lebih sering diam daripada melaju. Namun, di balik semua kesulitan itu, ia tetap datang setiap hari, berharap roda tuanya masih bisa membawa rejeki.

"Saya enggak minta banyak. Asal bisa makan hari ini, saya sudah bersyukur," katanya.

Di tengah gempuran ojol dan arus digitalisasi yang kian masif, sosok seperti Pacitan seakan tersisih pelan-pelan. Mereka bukan tidak mau berubah. Mereka hanya tak mampu mengikuti zaman yang melaju terlalu cepat. (KLIK-RED)

Baca Juga

Ikuti Kami