KLIK. SAMPIT - Masyarakat di Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) diimbau untuk lebih waspada, terutama di wilayah yang sering terjadi kemunculan beruang madu, dan satwa liar lainnya .Pasalnya, potensi kemungkinan satwa liar mendekati permukiman dan kebun warga sangat besar terjadi. Bahkan, belum lama ini Balai Konservasi Sumber Daya Alam Resort Sampit menerima laporan lima ekor beruang madu mendekati permukiman warga.
Kepala Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Resort Jaga Sampit Muriansyah, menjelaskan bahwa saat musim seperti sekarang, satwa liar seperti orangutan dan beruang madu bisa saja masuk ke permukiman warga.
“Masyarakat harus waspada saat musim kemarau, karena satwa liar seperti beruang madu bisa saja masuk ke permukiman warga,” ujar Muriansyah, Minggu (18/8).
Ia menuturkan bahwa salah satu hewan buas yang dapat menyerang manusia ini biasanya akan mengalami kekurangan makan dan minum saat musim kemarau. Selain itu, mereka juga berusaha menghindari api akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang terjadi di area hutan semak belukar yang tersisa.
“Karena adanya karhutla, tempat tinggal mereka biasanya rusak. Akibatnya, beruang madu keluar dan mendekati kebun, ladang, atau permukiman warga,” tambahnya.
Muriansyah mengakui bahwa pihaknya telah menerima banyak laporan mengenai kemunculan beruang madu saat musim kemarau ini. Salah satunya terjadi di Jalan Lingkar Utara atau Jalan Soekarno, tepatnya di Gang Burnia Raya, pada Jumat (16/8).
“Semakin panas hari, semakin banyak laporan gangguan beruang madu. Kami telah menerima laporan kemunculan beruang di Jalan Soekarno atau Lingkar Utara,” jelasnya.
Menindaklanjuti laporan tersebut, pada Sabtu (17/8) dari pukul 13.00 hingga 15.00 WIB, pihaknya melakukan observasi di lokasi kemunculan dan gangguan beruang madu. Dari hasil observasi, tim bertemu dengan warga setempat, Burhan, yang melaporkan kejadian tersebut.
“Dari keterangan pelapor, beruang madu yang terlihat diperkirakan berjumlah lima ekor, terdiri dari satu jantan besar, satu induk besar, dan tiga ekor anak,” terangnya.
Selain itu, dari pengamatan di lokasi gangguan, terlihat tanaman yang dirusak dan dimakan beruang, seperti nenas (buah dan umbut), kelapa (umbut), serta sarang tawon. Tim juga menemukan satu bekas sarang beruang di sebatang pohon dan cakaran di batang pohon.
“Kami telah memberikan pengarahan kepada pelapor dan keluarganya terkait perilaku beruang madu, serta mengingatkan mereka untuk berhati-hati saat beraktivitas di luar rumah, terutama pada malam hari, karena beruang madu bersifat nokturnal atau aktif di malam hari. Direncanakan, besok kami akan memasang dua unit perangkap beruang,” demikian Muriansyah.(KLIK-RED)