“Saya siap berkolaborasi jika memang dilibatkan dalam program MBG tersebut. Keberadaan program ini dapat menjadi angin segar bagi para petani yang seringkali menghadapi fluktuasi harga pasar,” kata Waud, Selasa (14/1).
Menurut Waud, kolaborasi antara petani dan pemerintah daerah mampu meningkatkan semangat petani untuk terus mengembangkan usahanya, terutama dengan adanya kepastian pasar untuk menyuplai bahan baku bagi program tersebut.
Dia mengakui, hingga saat ini belum ada sosialisasi dari dinas terkait maupun kelompok tani mengenai sejauh mana keterlibatan petani dalam program makan bergizi gratis tersebut.
“Selama ini kami kesulitan menjual hasil panen dengan harga yang layak. Dengan adanya program ini, mungkin kami bisa mendapatkan akses pasar yang lebih stabil,” ujarnya.
Selain itu, Waud menekankan pentingnya peran pemerintah daerah dalam mendukung kesiapan petani. Dia berharap pemerintah dapat memberikan pendampingan mulai dari penyediaan bibit unggul, pupuk, hingga fasilitas distribusi yang memadai untuk memastikan hasil panen petani dapat memenuhi standar program MBG.
Dia optimistis, kolaborasi antara petani dan pemerintah daerah ini dapat menjadi langkah strategis untuk memberdayakan petani, sehingga mereka lebih termotivasi dalam mengembangkan sektor pertanian.
“Kami menyambut baik program ini dan siap berkoordinasi dengan pengelola program makan siang gratis di daerah,” tegasnya.
Waud juga berharap kehadiran program MBG dapat menjadi solusi untuk meningkatkan produktivitas dan kesejahteraan petani di Kotim.
“Mudah-mudahan kehadiran program MBG ini dapat menjadi solusi untuk meningkatkan produktivitas dan kesejahteraan kami,” tandasnya. (KLIK-RED)