KLIK.JAKARTA – Sebanyak sembilan produk makanan olahan terbukti mengandung unsur babi (porcine) tanpa mencantumkan informasi tersebut dalam kemasan. Yang mengejutkan, tujuh di antaranya sudah bersertifikat halal. Fakta ini diungkap Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) bersama Badan Penyelenggara Jaminan Produk Halal (BPJPH), Senin (21/4).
Sebagian besar produk tersebut berupa marshmallow impor asal Filipina dan China, serta gelatin produksi dalam negeri. Hasil uji laboratorium menunjukkan keberadaan kandungan babi di seluruh sampel yang diperiksa.
“Terdapat sembilan batch produk yang terdiri dari tujuh produk bersertifikat halal dan dua batch dari produk yang tidak bersertifikat halal,” kata Kepala BPJPH, Ahmad Haikal Hasan.
Berikut daftar produk yang mengandung unsur porcine:
- Corniche Fluffy Jelly Marshmallow (Leci, Jeruk, Stroberi, Anggur) – Filipina, diimpor oleh PT Dinamik Multi Sukses.
- Corniche Apple Teddy Marshmallow – Filipina, PT Dinamik Multi Sukses.
- ChompChomp Car Mallow – China, PT Catur Global Sukses.
- ChompChomp Flower Mallow – China, PT Catur Global Sukses.
- ChompChomp Mini Marshmallow – China, PT Catur Global Sukses.
- Hakiki Gelatin – Diproduksi oleh PT Hakiki Donarta.
- Larbee - TYL Marshmallow Isi Selai Vanila – China.
- AAA Marshmallow Rasa Jeruk – Belum bersertifikat halal, diproduksi oleh Chaozhou Yongye Foods, China.
- SWEETME Marshmallow Rasa Cokelat – Belum bersertifikat halal, diproduksi oleh Fujian Jianmin Food Co., Ltd.
Sebagai tindak lanjut, BPJPH menjatuhkan sanksi tegas berupa penarikan produk bersertifikat halal yang terbukti mengandung unsur babi. Langkah ini merujuk pada Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 42 Tahun 2024 tentang Penyelenggaraan Jaminan Produk Halal.
“Kami minta masyarakat lebih berhati-hati dalam memilih produk, meskipun ada label halal, tetap perlu waspada dan memeriksa keaslian serta masa berlakunya,” imbau Ahmad Haikal.
Temuan ini menjadi tamparan keras terhadap sistem jaminan halal dan membuka ruang evaluasi terhadap mekanisme sertifikasi serta pengawasan produk impor di Indonesia. (KLIK-RED)