KLIK.SAMPIT – Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Resort Sampit mencatat tiga kasus serangan buaya terhadap manusia sepanjang tahun 2025. Kepala BKSDA Resort Sampit Muriansyah, mengimbau masyarakat untuk tidak lagi melakukan aktivitas mandi, cuci, kakus (MCK) di Sungai Mentaya dan anak sungainya karena dinilai tidak aman.
"Berdasarkan data kami, tahun ini telah terjadi tiga kali serangan buaya terhadap manusia. Bahkan pada bulan Maret lalu, hampir setiap hari kami menerima laporan kemunculan buaya," kata Muriansyah, Kamis (24/4).
Ia menjelaskan, serangan pertama terjadi pada Januari 2025 di Sungai Pasir, Desa Lampuyang, Kecamatan Teluk Sampit, yang mengakibatkan dua warga mengalami luka di bagian tangan dan kaki. Serangan berikutnya terjadi pada April 2025 di Desa Hanaut, Kecamatan Pulau Hanaut, dengan korban meninggal dunia.
Muriansyah menyebut konflik antara manusia dan buaya dipicu oleh kerusakan habitat alami buaya yang berdampak pada berkurangnya pakan. Hal ini menyebabkan buaya berpindah ke perairan yang lebih dekat dengan permukiman warga.
"Berdasarkan hasil pengamatan di lapangan, buaya akan menetap di suatu lokasi karena beberapa faktor, seperti adanya pemeliharaan ternak di sekitar sungai, pembuangan bangkai hewan, serta sampah rumah tangga ke sungai," terangnya.
BKSDA mengimbau masyarakat untuk menghindari aktivitas di sungai, terutama pada malam hari, dan tidak melakukan tindakan yang dapat mengundang kehadiran buaya.
"Kami minta warga yang tinggal di bantaran Sungai Mentaya untuk tidak lagi melakukan MCK di sungai, karena risikonya sudah sangat tinggi," pungkas Muriansyah. (KLIK-RED)