Home Peristiwa Berjuang di Tengah Lumpur, Pelajar Desa Batuah Rela Kotor dan Menantang Bahaya Demi Sekolah

Berjuang di Tengah Lumpur, Pelajar Desa Batuah Rela Kotor dan Menantang Bahaya Demi Sekolah

  Sugianto   | Kamis , 24 April 2025
7ae5b05a482f570258e607a106b88846.jpg
Seorang pelajar berangkat sekolah melewati jalan poros Seranau-Cempaga yang mengalami kerusakan parah dan membahayakan penggunanya.

KLIK.SAMPIT – Pagi baru saja merekah di ufuk timur Desa Batuah, Kecamatan Seranau, Kabupaten Kotawaringin Timur. Namun bagi sekelompok pelajar SMA, hari telah dimulai jauh sebelum matahari benar-benar bersinar terang. Dengan seragam yang masih bersih dan semangat yang tak pernah pudar, mereka  menyusuri jalan tanah berlumpur yang menjadi satu-satunya akses menuju sekolah di Desa Terantang.

Roda sepeda motor kerap tergelincir dalam kubangan. Kadang, kaki mereka terbenam hingga mata kaki saat menahan sepeda motor yang nyaris jatuh. Lebih menyiksa lagi bagi pelajar yang naik sepeda pancal atau jalan kaki. Tapi mereka tetap melaju . Sebab di ujung jalan penuh lumpur itu, ada harapan—harapan akan masa depan yang lebih baik melalui pendidikan.

“Saya lihat sendiri bagaimana anak-anak ini jatuh bangun melewati jalan. Kadang mereka sampai tiba di sekolah dalam kondisi kotor. Pernah ada yang pulang lagi karena seragamnya sudah tidak layak dipakai untuk belajar,” tutur Sapran, salah satu warga Desa Batuah.

Sapran tak sendiri. Hampir seluruh warga desa merasakan kepedihan yang sama: melihat anak-anak mereka harus mempertaruhkan keselamatan demi sampai ke sekolah. Jalan yang menghubungkan Cempaga–Seranau ini sudah lama rusak. Setiap musim hujan, kondisi semakin parah. Tanah yang tadinya keras berubah menjadi lumpur licin, menciptakan tantangan berat bagi siapa pun yang melintas.

“Ini satu-satunya akses yang kami punya. Tidak hanya anak sekolah, warga yang sedang sakit, bahkan ibu hamil pun harus melewati jalur ini. Kami tidak punya pilihan lain,” imbuhnya.

Dalam pantauan di lapangan, kerusakan parah terjadi di sejumlah titik sepanjang ruas jalan Batuah–Terantang. Jalan dipenuhi kubangan lumpur yang dalam. Beberapa jembatan darurat dari papan hasil swadaya masyarakat juga tampak sudah rapuh, menyisakan kekhawatiran setiap kali dilalui kendaraan roda dua maupun pejalan kaki.

Meskipun begitu, tak ada pilihan lain. Aktivitas warga tetap harus berjalan, termasuk anak-anak yang bertekad menuntut ilmu.

Video perjuangan pelajar menembus lumpur sempat viral di media sosial beberapa waktu lalu. Dalam video itu, tampak seorang siswa terpeleset saat mengayuh sepeda, membuat seragam sekolahnya penuh lumpur. Kisah seperti ini bukan hal baru di Desa Batuah. Ini adalah cerita harian yang terus berulang tanpa kepastian akan perbaikan.

Sebagai catatan, ruas jalan Cempaka Mulia–Kampung Melayu yang menjadi bagian dari jalur ini telah diambil alih oleh Pemerintah Provinsi Kalimantan Tengah sejak November 2024. Namun hingga kini, perbaikan belum juga terlihat.

“Kami tidak butuh janji lagi. Yang kami harapkan sekarang hanya tindakan nyata. Jalan ini adalah urat nadi desa. Kalau ini tidak diperbaiki, pendidikan dan keselamatan anak-anak kami akan terus dipertaruhkan,” harap Sapran, mewakili suara warga yang sudah lama bersabar.

Di balik kerusakan jalan, lumpur, dan jembatan darurat, tersimpan kisah keberanian anak-anak Desa Batuah. Mereka adalah simbol dari semangat yang tak bisa ditaklukkan oleh medan seberat apa pun.(KLIK-RED)

Baca Juga

Ikuti Kami