KLIK.SAMPIT – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) dikeluhkan sejumlah sekolah karena mendadak terhenti tanpa kejelasan. Tak hanya itu, kualitas makanan yang sempat dibagikan kepada siswa juga disorot karena dinilai tidak layak konsumsi.
Program yang menyasar 19 sekolah di Kecamatan Mentawa Baru Ketapang ini sebelumnya digagas untuk membantu pemenuhan gizi siswa, khususnya yang berasal dari keluarga kurang mampu. Namun dalam beberapa pekan terakhir, distribusi makanan tidak lagi berlangsung.
“Kami menyayangkan program ini berhenti begitu saja. Padahal sangat membantu. Sayangnya, kualitas makanannya juga tidak konsisten. Pernah nasi belum matang, buahnya benyek, dan sayurnya keras,” ungkap seorang kepala TK di Kecamatan Mentawa Baru Ketapang, Kamis (17/7). Ia meminta agar namanya tidak dipublikasikan.
Ia menambahkan, pihaknya sempat diminta untuk kembali mengirim data siswa, namun belum ada informasi lanjutan mengenai kapan program akan dilanjutkan. Ia berharap, jika program tersebut kembali berjalan, kualitas makanan perlu ditingkatkan dan sekolah dilibatkan dalam pengawasan.
“Kalau bisa jalan lagi, kami berharap kualitasnya lebih baik agar anak-anak bisa makan dengan nyaman,” ujarnya.
Sementara itu, Bupati Kotim Halikinnor mengungkapkan bahwa pemerintah daerah masih menunggu arahan resmi dari pemerintah pusat terkait kelanjutan program MBG. Ia menegaskan bahwa program tersebut sepenuhnya merupakan kewenangan pusat, dan daerah hanya menjalankan sesuai petunjuk.
“Kami masih menunggu instruksi dari pusat. Kemarin saya sudah mengecek langsung ke lapangan. Mungkin ada hambatan, seperti bahan pangan lokal yang belum siap, atau kualitas produksi yang belum maksimal,” kata Halikinnor.
Ia juga menyebutkan bahwa vendor pelaksana tengah berkoordinasi dengan pemerintah daerah. Informasi sementara yang diterima Pemkab, program dihentikan dalam rangka evaluasi.
“Nanti pihak vendor akan berkoordinasi dengan kami. Sekarang kami hanya menerima laporan bahwa program dihentikan sementara, kemungkinan untuk proses evaluasi agar ke depan lebih optimal,” pungkasnya. (KLIK-RED)