KLIK.SAMPIT – Pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) mulai berjalan. Dua Satuan Pusat Penyedia Gizi (SPPG) kini telah siap beroperasi dan akan segera mendistribusikan makanan bergizi kepada siswa penerima manfaat.
Koordinator Wilayah (Korwil) SPPG Kotim Rini Maulida, menyampaikan bahwa dua dapur utama tersebut berlokasi di Jalan Yos Sudarso, Sampit, dan Kecamatan Parenggean.
“Kalau sejauh ini di Kotawaringin Timur sudah ada dua SPPG yang siap operasional. Satunya di Yos Sudarso, satunya lagi di Parenggean,” ujarnya, Rabu (5/11).
Selain itu, terdapat sekitar 14 titik dapur SPPG lain yang tengah dalam tahap pembangunan dan persiapan, tersebar di beberapa kecamatan.
“Jadi tidak hanya di wilayah kota, tetapi juga di beberapa kecamatan lainnya,” jelasnya.
Untuk memastikan keamanan pangan, seluruh dapur SPPG diwajibkan memenuhi standar higienitas yang ketat. Langkah ini dilakukan guna mencegah kejadian luar biasa (KLB) seperti kasus keracunan makanan yang sempat terjadi di beberapa daerah lain.
“Masing-masing SPPG harus memiliki sertifikat kelayakan dapur, para relawan wajib memiliki sertifikat penjamah makanan, serta dilakukan uji sampel air dan makanan sebelum dapur beroperasi,” tegas Rini.
Rini menambahkan, setiap dapur ditargetkan mampu melayani hingga 3.000 penerima manfaat, namun pelaksanaannya dilakukan secara bertahap agar distribusi berjalan aman dan terukur.
Saat ini, program MBG di Kotim telah menyasar tiga sekolah pada tahap awal, dan pendistribusiannya akan terus diperluas seiring dengan bertambahnya dapur SPPG yang siap beroperasi.
Salah satu sekolah penerima manfaat adalah SMK Santo Yosep Sampit, yang telah menerima distribusi MBG sejak dua hari terakhir.
Kepala SMK Santo Yosep Sampit, Antonius Parulian Situngkir, mengapresiasi program ini karena dinilai membantu peningkatan gizi siswa sekaligus meringankan beban ekonomi orang tua.
“Anak-anak mendapatkan asupan gizi yang lebih baik, sementara dari sisi ekonomi tentu meringankan beban keluarga,” ujarnya.
Antonius juga mengingatkan agar seluruh pihak tetap waspada terhadap potensi masalah makanan.
“Jangan meremehkan kasus keracunan. Sekecil apa pun itu berbahaya, terutama bagi anak-anak. Program ini tujuannya baik, jadi harus dijaga bersama,” ucapnya.
Program MBG diharapkan tidak hanya meningkatkan kualitas gizi pelajar, tetapi juga menjadi contoh pelaksanaan program makan bergizi yang aman, bersih, dan berstandar tinggi di Kalimantan Tengah.(KLIK-RED)