Home DPRD Kotawaringin Timur Panen Raya Melimpah, Petani Kotim Menjerit Bulog Hentikan Pembelian

Panen Raya Melimpah, Petani Kotim Menjerit Bulog Hentikan Pembelian

  Sugianto   | Kamis , 25 September 2025
d92aa59c4da6f9cc1473b29bb39fc4c5.jpg
Wakil Ketua II DPRD Kotim Rudianur

KLIK.SAMPIT – Panen raya yang seharusnya membawa kebahagiaan justru berubah jadi keresahan bagi petani di wilayah selatan Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim). Pasalnya, Bulog menghentikan pembelian gabah sejak Juli lalu, padahal saat ini hasil panen tengah melimpah.

Wakil Ketua II DPRD Kotim Rudianur, menyampaikan hal ini setelah menerima keluhan langsung dari petani di Desa Lampuyang.

"Petani bingung, panen sedang luar biasa banyak, tapi Bulog mendadak berhenti membeli. Informasinya karena gudang penuh, tapi kami belum dapat penjelasan resmi," kata Rudianur, Kamis (25/9).

Ia menjelaskan, sebelumnya petani sempat lega dengan adanya kebijakan pemerintah pusat yang menjanjikan Bulog membeli gabah dengan harga Rp5.500 per kilogram. Namun, kebijakan itu hanya berjalan sebulan.

Menurut politisi Golkar ini, alasan gudang penuh tidak seharusnya menjadi hambatan. Bulog bisa menyewa gudang tambahan atau mencari solusi lain. "Kalau dibiarkan, ini sama saja membiarkan petani terpuruk," tegasnya.

Karena tak ada pilihan lain, petani akhirnya menjual gabah ke tengkulak asal Banjarmasin dengan harga lebih rendah. Truk-truk pengusaha luar daerah pun kembali keluar-masuk, memborong gabah dari ribuan hektare sawah petani Kotim.

"Padahal pemerintah sudah berjanji beras petani akan dibeli Bulog. Faktanya sekarang yang untung justru pengusaha luar, sementara petani kita semakin sulit," ujarnya.

Sebagai wakil rakyat dari dapil III wilayah selatan Kotim, Rudianur khawatir kondisi ini akan membuat kesejahteraan petani makin jauh dari harapan. Harga gabah yang anjlok membuat mereka kesulitan menutup biaya hidup maupun biaya tanam berikutnya. Ia mendesak pemerintah pusat segera mengevaluasi kebijakan Bulog.

"Kalau Bulog konsisten membeli, petani bisa sejahtera. Tapi kalau terus seperti ini, petani rugi dua kali. Panen tak terbeli dan harga ditekan tengkulak," imbuhnya.

Selain masalah gabah, Rudianur juga menyinggung soal banjir yang makin sering mengganggu lahan pertanian. Ia menilai akar masalahnya ada pada anak sungai dan muara yang dangkal serta tersumbat.

"Kotim ini ibarat gentong. Air hujan meluap karena tidak ada saluran pembuangan. Pemerintah harus berani membuat sodetan atau saluran baru. Kalau tidak, banjir akan terus mengancam sawah petani," tandasnya.(KLIK-RED)

Baca Juga

Ikuti Kami