Home Pemerintah Kotawaringin Timur Diare Anak di Kotim Melonjak, RSUD Murjani Siapkan Antisipasi Pasien

Diare Anak di Kotim Melonjak, RSUD Murjani Siapkan Antisipasi Pasien

  Sugianto   | Kamis , 15 Oktober 2026
c2094312ae1997b0905b61f73220c10e.jpg
Bupati Kotawaringin Timur Halikinnor saat mengunjungi RSUD dr Murjani Sampit, Kamis (15/10). (Sugianto/Klikkalteng.id)

KLIK.SAMPIT – Kasus diare, terutama pada anak-anak, di Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) dilaporkan meningkat sekitar 25–30 persen dibandingkan kondisi normal. Mengantisipasi kemungkinan bertambahnya pasien, RSUD dr Murjani Sampit menyiapkan ruang perawatan serta tenaga medis dan perawat.

Bupati Kotim Halikinnor menyampaikan peningkatan kasus diare tersebut menjadi perhatian pemerintah daerah. Informasi itu diterimanya di tengah kondisi kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) serta persoalan kualitas air di sejumlah wilayah.

“Yang mengalami peningkatan sekarang justru kasus diare, khususnya pada anak-anak. Kondisi air di daerah kita yang sudah terdampak intrusi air laut juga perlu diperhatikan karena air tersebut dikonsumsi masyarakat,” kata Halikinnor saat mengunjungi RSUD dr Murjani Sampit, Kamis (15/10).

Halikinnor mengatakan, kesiapan rumah sakit perlu dipastikan agar pelayanan tetap berjalan apabila jumlah pasien meningkat. Pemerintah daerah telah mengecek kondisi ruang perawatan dan kesiapan tenaga kesehatan di RSUD dr Murjani.

“Kita sudah mengecek kesiapan pihak rumah sakit. Ruangan, tempat perawatan, serta tenaga medis dan perawat juga sudah diantisipasi. Jadi, apabila terjadi lonjakan pasien, kita berharap semuanya sudah siap ditangani,” ujarnya.

Selain diare, gangguan kesehatan seperti infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) juga menjadi perhatian di tengah kabut asap. Halikinnor menyebut warga yang mengalami ISPA dan tidak memerlukan perawatan di rumah sakit dapat berobat ke puskesmas setempat.

Persoalan kualitas air turut menjadi perhatian karena sejumlah wilayah di Kotim terdampak intrusi air laut. Di wilayah terdampak, air PDAM hanya diperuntukkan bagi kebutuhan mandi, cuci, dan kakus (MCK), bukan untuk dikonsumsi atau digunakan memasak.

Meski demikian, peningkatan kasus diare tersebut belum dapat dipastikan berkaitan langsung dengan kondisi air. Untuk memastikan kaitannya, diperlukan data kesehatan dan pemeriksaan kualitas air yang lebih terperinci.

Halikinnor juga menyampaikan bahwa hujan mulai turun di beberapa wilayah utara Kotim, tetapi belum merata hingga kawasan perkotaan Sampit. Pemerintah daerah berharap hujan segera turun untuk membantu mengurangi kabut asap.

“Kita berharap dalam waktu dekat hujan juga turun di wilayah perkotaan sehingga kabut asap bisa segera berlalu. Mudah-mudahan kondisi ini tidak berlangsung lama dan masyarakat bisa kembali beraktivitas dengan lebih nyaman,” katanya.

Di tengah kondisi tersebut, kesiapan fasilitas kesehatan menjadi salah satu langkah untuk mengantisipasi kebutuhan pelayanan masyarakat. Pemantauan perkembangan kasus diare, kondisi pernapasan warga, dan kualitas air tetap diperlukan agar penanganan dapat dilakukan sesuai kondisi di lapangan.(KLIK-RED)

 

Baca Juga

Ikuti Kami