KLIK. SAMPIT – Rencana Menteri Kehutanan RI Raja Juli Antoni meninjau langsung kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim), Kalimantan Tengah, batal terlaksana. Padahal, kebakaran masih terjadi di sejumlah wilayah, sementara kabut asap terus mengganggu aktivitas masyarakat.
Kepala Pelaksana BPBD Kotim Imam Subekti mengatakan, pihaknya tidak menerima penjelasan terperinci mengenai alasan pembatalan agenda peninjauan maupun pertemuan dengan organisasi perangkat daerah (OPD) terkait.
Bahkan, jajaran BPBD sempat menunggu di posko hingga pukul 22.00 WIB, Selasa (13/10) malam, sebelum menerima informasi bahwa kegiatan di Sampit dibatalkan.
“Kami ndak dikasih tahu kenapa cancel. Kami kemarin nunggu di posko sampai 22.00 WIB. Informasi dari Kepala Balai Menhut, cancel giat di Sampit ini melalui WhatsApp Pak Yudho, Kepala Balai,” ungkap Imam.
Padahal, kunjungan tersebut diharapkan menjadi kesempatan untuk memperlihatkan kondisi karhutla secara langsung kepada pemerintah pusat, termasuk kebutuhan petugas dalam memadamkan api dan mencegah kebakaran meluas.
Sejumlah wilayah Kotim masih menghadapi kebakaran, di antaranya kawasan Kandan-Camba, Kecamatan Kota Besi, dan Seranau. Rekaman video udara yang beredar memperlihatkan asap mengepul dari lahan yang terbakar.
Di tengah kondisi tersebut, peninjauan langsung dinilai penting untuk melihat kendala penanganan di lapangan. Dukungan personel, ketersediaan peralatan pemadaman, serta langkah pencegahan menjadi kebutuhan yang perlu diperhatikan agar kebakaran tidak terus berulang.
Sementara itu, informasi yang diperoleh di lapangan menyebutkan Raja Juli Antoni dijadwalkan bertolak menuju Kabupaten Kotawaringin Barat (Kobar) untuk meninjau kebakaran yang merembet ke kawasan Taman Nasional Tanjung Puting.
Namun, belum ada kepastian bahwa perubahan agenda menuju kawasan konservasi tersebut menjadi alasan pembatalan kegiatan di Kotim.
Batalnya agenda itu membuat rencana peninjauan langsung dan koordinasi dengan pemerintah daerah di Kotim belum terlaksana. Hingga berita ini disusun, belum ada penjelasan resmi mengenai penyebab pembatalan maupun kepastian jadwal kunjungan pengganti.
Di sisi lain, penanganan karhutla di Kotim tetap harus berjalan. Pemadaman di lapangan perlu dilanjutkan, sementara dampak kabut asap menambah gangguan terhadap aktivitas masyarakat.
Warga berharap penanganan tidak berhenti pada koordinasi dan rencana kunjungan. Dukungan nyata berupa penguatan personel, peralatan pemadaman, dan upaya pencegahan dibutuhkan untuk menekan risiko kebakaran serta mengurangi dampaknya bagi masyarakat. (KLIK-RED)