Home Berita Metropolis Intrusi Air Laut Ganggu Pasokan PDAM, Debit Air Baku Kotim Turun hingga 50 Liter per Detik

Intrusi Air Laut Ganggu Pasokan PDAM, Debit Air Baku Kotim Turun hingga 50 Liter per Detik

  Redaksi   | Kamis , 15 Oktober 2026
5252300dc1174b55ce37010a7f1f0988.jpg
Ilustrasi kemarau dan kekeringan di Kotawaringin Timur berdampak luas terhadap masyarakat. Sumber air sudah terpengaruh air laut sehingga tak layak konsumsi. (Dibuat dengan kecerdasan buatan/Klikkalteng.id)

KLIK.SAMPIT – Intrusi air laut akibat musim kemarau mengganggu pasokan air Perumdam Tirta Mentaya di Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim). Debit air baku dilaporkan turun sekitar 40–50 liter per detik, sementara air PDAM di lima kecamatan dinyatakan tidak layak digunakan untuk minum dan memasak karena mulai terasa payau.

Kepala Bagian Teknik Perumdam Tirta Mentaya Kotim, Edy Dyufriadi, mengatakan peningkatan kadar salinitas terjadi pada air baku Sungai Mentaya. Kondisi tersebut kini turut dirasakan di Intake Tanah Mas, Kecamatan Baamang.

“Sehubungan dengan kondisi musim kemarau menyebabkan terjadinya intrusi air laut dan peningkatan kadar salinitas, air baku Sungai Mentaya di Intake Tanah Mas (Kecamatan Baamang) mulai terasa payau,” kata Edy, Rabu (14/10).

Baamang menjadi kecamatan kelima yang terdampak intrusi air laut. Sebelumnya, kondisi serupa terjadi di Mentaya Hilir Selatan, Mentaya Hilir Utara, Seranau, dan Mentawa Baru Ketapang.

Pelanggan di lima kecamatan tersebut diimbau tidak menggunakan air PDAM untuk minum maupun memasak. Air yang didistribusikan saat ini hanya diperuntukkan bagi kebutuhan mandi, cuci, dan kakus (MCK).

Penurunan debit air baku berdampak pada produksi dan distribusi air di sejumlah zona pelayanan, terutama Baamang dan Ketapang. Meski begitu, Perumdam tetap menjalankan distribusi karena masyarakat masih membutuhkan air untuk keperluan sehari-hari.

“Di lima kecamatan yang airnya sudah payau, PDAM tetap beroperasi. Meski air payau jelas memengaruhi dari sisi teknis, tetapi kita tidak bisa juga mematikan distribusi karena ada kebutuhan masyarakat untuk MCK. Apa pun yang kita lakukan semua demi masyarakat,” ujar Edy.

Untuk menjaga pelayanan, Perumdam menyesuaikan operasional pompa distribusi dengan kondisi debit air baku. Langkah ini dilakukan agar pasokan dapat dibagi dan distribusi tetap berlangsung di wilayah terdampak.

Pelanggan juga diminta menampung air secukupnya ketika distribusi mengalami penyesuaian. Namun, air tersebut harus digunakan sesuai peruntukannya dan tidak untuk diminum maupun memasak.

Edy menyebut kondisi air PDAM di sejumlah kecamatan lain masih relatif aman untuk dikonsumsi. Wilayah tersebut meliputi Kota Besi, Pundu, Cempaka Mulia, Parenggean, dan Kuayan.

Namun, intrusi air laut berpotensi meluas apabila hujan belum turun hingga akhir Oktober 2026. Kota Besi menjadi salah satu wilayah yang perlu diwaspadai jika kemarau terus berlanjut.

“Kalau hujan tidak turun sampai bulan Oktober berakhir kemungkinan Kecamatan Kota Besi juga bakal kena intrusi air laut,” ungkapnya.

Sementara itu, penyaluran bantuan air bersih telah dialihkan dari Baamang ke Kota Besi karena kondisi sumber air di wilayah tersebut dinilai masih relatif aman. Edy menyebut sebagian masyarakat masih mengambil air dari Baamang, tetapi digunakan untuk kebutuhan MCK.

Perumdam mengimbau pelanggan di wilayah terdampak mengikuti arahan penggunaan air selama kondisi payau berlangsung. Air PDAM tetap dapat dimanfaatkan untuk MCK, tetapi tidak digunakan untuk minum dan memasak. (KLIK-RED)

 

Baca Juga

Ikuti Kami