KLIK.SAMPIT – Kabut asap kembali menyelimuti Sampit, Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim), Kalimantan Tengah, Minggu (18/10) pagi, sehari setelah kunjungan Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni. Berdasarkan data BMKG Kotim, jarak pandang di wilayah Sampit sempat terbatas hingga 200 meter pada pukul 06.00 dan 07.00 WIB.
Data pengamatan cuaca BMKG Kotim di Stasiun Meteorologi Haji Asan Sampit menunjukkan kondisi kabut asap masih bertahan hingga pukul 10.00 WIB. Jarak pandang sempat membaik menjadi 400 meter pada pukul 08.00 WIB, kemudian mencapai 500 meter pada pukul 09.00 WIB sebelum kembali turun menjadi 400 meter satu jam berikutnya.
Pada pukul 06.00 WIB, suhu udara tercatat 25,2 derajat Celsius dengan kelembapan 90 persen. Angin bertiup dari tenggara dengan arah 130 derajat dan kecepatan 4 kilometer per jam.
Memasuki pukul 07.00 WIB, jarak pandang masih 200 meter. Suhu meningkat menjadi 26,3 derajat Celsius, kelembapan turun menjadi 86 persen, sedangkan kecepatan angin naik menjadi 6 kilometer per jam dari arah tenggara.
Jarak pandang kemudian meningkat menjadi 400 meter pada pukul 08.00 WIB, saat suhu mencapai 28,6 derajat Celsius dan kecepatan angin 13 kilometer per jam. Pada pukul 09.00 WIB, jarak pandang mencapai 500 meter dengan suhu 30,5 derajat Celsius.
Namun, perbaikan itu tidak bertahan hingga pukul 10.00 WIB. Jarak pandang kembali tercatat 400 meter, sementara suhu mencapai 32,2 derajat Celsius dengan kelembapan 56 persen. Angin masih bertiup dari tenggara dengan kecepatan 7 kilometer per jam.
Seluruh pengamatan tersebut mencatat kondisi cuaca berupa kabut asap.
Menhut Akui Penanganan Karhutla Masih Menghadapi Tantangan
Sehari sebelumnya, Sabtu (17/10/2026) malam, Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni berkunjung ke Sampit untuk membahas penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) bersama Bupati Kotim Halikinnor dan unsur terkait.
Dalam kunjungan itu, Raja Juli mengakui kondisi Kalimantan masih menghadapi tantangan besar akibat karhutla. Ia juga menyebut hujan alami di Kalimantan Tengah diperkirakan baru turun pada November 2026 berdasarkan prediksi BMKG.
“Kalimantan kita memang sedang tidak baik-baik saja. Tantangan kita masih besar karena prediksi dari BMKG bahwa hujan alami di Kalimantan Tengah baru akan ada di November,” ujarnya.
Raja Juli mengatakan pemerintah terus berupaya memadamkan api dan mengurangi dampak asap. Salah satu langkah yang dilakukan ialah Operasi Modifikasi Cuaca (OMC), yang pelaksanaannya bergantung pada ketersediaan bibit awan yang dapat disemai.
“Sebaliknya, pemerintah hadir semaksimal mungkin untuk memastikan api padam dan asap tidak membuat lebih banyak lagi masyarakat kita terkena ISPA,” katanya.
Kembalinya kabut asap di Sampit pada Minggu pagi menunjukkan kondisi jarak pandang masih dapat berubah dalam hitungan jam. Meski demikian, data pengamatan cuaca tersebut belum cukup untuk memastikan sumber asap yang menyelimuti kota pada hari itu.
Masyarakat diimbau berhati-hati saat berkendara ketika jarak pandang terbatas serta mengurangi aktivitas di luar ruangan apabila kondisi udara memburuk. (KLIK-RED)