KLIK.SAMPIT – Staf Ahli Menteri Kehutanan Bidang Hubungan Antarlembaga, Fahrizal Fitri, memberikan klarifikasi terkait batalnya kunjungan Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni ke Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) untuk meninjau penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Klarifikasi itu disampaikan setelah rekaman percakapan Fahrizal dengan Wakil Bupati Kotim, Irawati, beredar luas di media sosial.
Melalui akun Instagram resminya, @fahrizalfitri, Jumat (16/10/2026) malam, Fahrizal menyayangkan beredarnya rekaman yang disebutnya sebagai percakapan pribadi antara dirinya dan Irawati.
“Saya menyayangkan dan merasa kecewa karena percakapan yang beredar tersebut merupakan percakapan pribadi antara saya dan Ibu Wakil Bupati. Itu satu hal yang sangat tidak etis,” ujarnya dalam video berdurasi 1 menit 24 detik tersebut.
Fahrizal juga menegaskan bahwa Irawati tidak pernah meminta dirinya maupun pihak Kementerian Kehutanan mengagendakan pertemuan dengan relawan atau undangan makan malam selama rangkaian kunjungan Menteri Kehutanan ke Sampit.
“Dalam kunjungan Pak Menteri Kehutanan ke Sampit, Ibu Wabup tidak pernah meminta kepada saya maupun pihak Kementerian Kehutanan untuk mengagendakan pertemuan dengan relawan maupun undangan makan malam,” katanya.
Agenda Berubah ke Pangkalan Bun
Terkait batalnya kunjungan ke Kotim, Fahrizal menjelaskan bahwa Menteri Kehutanan harus segera bertolak ke Pangkalan Bun untuk menghadiri rapat penanganan karhutla di kawasan Taman Nasional Tanjung Puting. Perubahan agenda tersebut membuat rencana peninjauan ke Sampit tidak terlaksana.
Meski demikian, Fahrizal menyampaikan bahwa Raja Juli Antoni masih berencana mengunjungi Kotim pada kesempatan berikutnya.
“Namun demikian, Pak Menteri Kehutanan akan tetap ke Sampit, Kotim, di kesempatan berikutnya,” ujarnya.
Fahrizal juga menekankan bahwa penanganan karhutla membutuhkan keterlibatan berbagai pihak. Menurutnya, sinergi pemerintah pusat dan daerah, TNI-Polri, relawan, pihak swasta, serta masyarakat diperlukan untuk menghadapi persoalan tersebut.
“Karhutla ini merupakan persoalan bersama yang membutuhkan kerja sama antara pemerintah pusat, daerah, TNI-Polri, relawan, swasta, dan masyarakat,” tuturnya.
Sebelumnya, rekaman percakapan telepon antara Irawati dan Fahrizal menjadi perhatian publik setelah beredar di media sosial. Dalam rekaman tersebut, Irawati terdengar menyampaikan kekecewaan atas batalnya kunjungan Menhut ketika Kotim masih menghadapi persoalan karhutla.
Klarifikasi Fahrizal memberikan penjelasan mengenai perubahan agenda kunjungan sekaligus menyampaikan keberatannya atas penyebaran percakapan pribadi. Sementara itu, rencana kunjungan Menteri Kehutanan ke Kotim pada kesempatan berikutnya masih menunggu realisasi. (KLIK-RED)