KLIK. SAMPIT - Pemerintah Kabupaten Kotawaringin Timur memginginkan Festival Bubur Asyura masuk ke dalam kalender wisata Dinas Kebudayaan dan Pariwisata di daerah itu.
Tradisi pembuatan bubur asyura yang biasa diperingati saat 10 Muharram akan dijadikan tradisi tahunan.
"Saya ingin ini menjadi agenda tahunan yang konsisten dilaksanakan. Sehingga tradisi ini tetp lestari. Kalau bukan kita siapa lagi," ucap Bupati Kotawaringin Timur, Halikinnor, Selasa (9/8).
Halikinnor memgungkapkan itu saat menghadiri kegiatan pembuatan bubur asyura di Kelurahan Baamang Hulu, Kecamatan Baamang yang digelar oleh warga setempat.
Halikkinor didampingi oleh istri Khairiah Halikinnor. serta ditemai Wakil Bupati Kotim Irawati, Ketua DPRD Kotim Rinie, Sekretaris Daerah Kotim Fajrurrahman serta sejumlah kepala perangkat daerah di lingkungan Pemkab Kotim.
"Saya ingin pembuatan bubur asyura ini menjadi kegiatan besar dan tradisi tahunan ke depan," katanya.
Ia menilai ini merupakan salah satu tradisi masyarakat setempat yang hampir setiap tahunnya dilakukan., sehingga perlu dijaga.
Dirinya juga telah meminta kepada sekretaris daerah untuk mencatat terkait hal tersebut. Karena dirinya ingin menjadikan tradisi memasak menyajikan dan makan bersama bubur asyura menjadi agenda pariwisata tahunan.
" Memang kita tahu akan menggelar mandi safar atau simah laut. Tapi bubur asyura ini juga harus dipertahankan. Makanya saya ingin bubur asyura menjadi festival bubur asyura se-Kotim," ujarnya.
Ia berharap, nantinya dalam Festival Akbar Bubur Asyura, setiap kecamatan ada perwakilan. Jadi pemerintah daerah yang akan membiayainya dengan tujuan mensosialisasikan bulan Muharram serta edukasi bagi anak agar tahu sejarah bubur asyura.
"Harapan saya ini tahun baru Islam itu seperti tahun baru 1 Januari atau tahun masehi," tegasnya.
Sementara Festival Bubur Asyura Dadang H Syamsu mengatakan kegiatan pembuatan bubur asyura ini murni dari ide dan diprakarsai warga setempat.
Dirinya juga sangat mendukung jika kegiatan tersebut diselenggarakan secara besar oleh pemda yang pelaksanaannya menggunakan anggaran pendapatan belanja daerah.
"Seperti kita ketahui bersama antusiasme warga dengan kegiatan budaya ini sangat tinggi. Sehingga kegiatan ini memang harus dilaksanakan secara besar-besaran," tandas pria bernama asli Dadang Siswanto. (KLIK-RED)