KLIK.SAMPIT – Warga Desa Terantang, Kecamatan Seranau, Kabupaten Kotawaringin Timur, masih melestarikam tradisi mandi safar di sungai Mentaya.
“Kami menggelar tradisi mandi safar ini setiap tahun bersama warga,” ucap Mirhansyah, salah seorang warga, Rabu (4/9).
Menurutnya, selain acara mandi safar, mereka juga mengadakan makan bersama sebagai bentuk syukuran di desa tersebut.
Mirhan menjelaskan bahwa tradisi ini digelar karena mereka meyakini bahwa bulan Safar adalah bulan nahas, di mana banyak bala atau musibah yang berpotensi terjadi. Oleh karena itu, tradisi mandi safar ini tidak hanya bertujuan untuk menjalin silaturahmi antarwarga, tetapi juga sebagai upaya adat untuk mengusir sial atau tolak bala.
“Biasanya, sebelum atau setelah mandi safar, kami di kampung ini mengadakan syukuran dengan membaca doa tolak bala agar terhindar dari sial atau musibah,” ujarnya.
Berdasarkan data yang dihimpun, tradisi mandi safar ini tidak hanya digelar di Desa Terantang. Tradisi ini juga dilaksanakan oleh sejumlah warga Kotim, terutama yang tinggal di bantaran Sungai Mentaya. Selain itu, peserta mandi safar ini tidak hanya terdiri dari anak-anak, tetapi juga diikuti oleh orang dewasa.
“Kami di kampung ini, baik anak-anak maupun dewasa, sangat antusias mengikuti mandi safar ini,” tambah Mirhan.
Sementara itu, Sadam, seorang warga Kecamatan Kota Besi yang tinggal di pinggiran Sungai Mentaya, juga menyatakan bahwa mereka menggelar tradisi mandi safar ini setiap tahun.
“Setiap tahun kami mengadakan mandi safar ini. Kami percaya bahwa mandi safar dapat membuang sial,” ujarnya.
Ia bersama warga lainnya menyambut antusias momentum mandi safar ini. Menurutnya, sejak pagi hingga siang hari, semakin banyak peserta yang mengikuti mandi safar di lokasi tersebut.
“Sejak pagi tadi, kami sudah mempersiapkan acara mandi safar ini, mulai dari pelampung hingga aksesoris daun sawang yang telah didoakan,” jelasnya.
Ia berharap agar tradisi ini dapat membawa kebaikan, memperpanjang umur, serta memberikan kesehatan bagi warga Kotim. (KLIK-RED)