KLIK.SAMPIT – Konflik antara manusia dan buaya di Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) selama 15 tahun terakhir meninggalkan jejak tragis. Data Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Resort Sampit mencatat 51 kasus serangan buaya, dengan 7 orang meninggal dunia, 28 luka-luka, dan sisanya tidak mengalami cedera.
"Selama 15 tahun terakhir, ada 51 kejadian buaya menyerang manusia. Tujuh orang meninggal dunia, 21 mengalami luka ringan, 7 luka berat, dan sisanya selamat tanpa cedera," ungkap Kepala BKSDA Resort Sampit Muriansyah, Kamis (16/1).
Menurut Muriansyah, serangan buaya ini tersebar di berbagai kecamatan, dengan Kecamatan Mentaya Hilir Selatan menjadi wilayah paling rawan, mencatat 16 korban. Wilayah lain seperti Teluk Sampit (13 korban), Seranau (8 korban), Pulau Hanaut (4 korban), Cempaga (4 korban), Mentaya Hilir Utara (3 korban), dan Mentawa Baru Ketapang (3 korban) juga menjadi lokasi kejadian.
Muriansyah menjelaskan, salah satu penyebab konflik ini adalah aktivitas warga yang berpotensi mengundang buaya ke sekitar permukiman. Keberadaan kandang ternak di tepi atau di atas sungai, serta kebiasaan membuang bangkai hewan ke sungai, menjadi faktor utama.
Dari 51 kasus serangan buaya yang tercatat, 40 di antaranya terjadi saat warga melakukan aktivitas mandi, cuci, dan kakus (MCK). Aktivitas mencari ikan, karang, atau udang menyumbang 8 kasus, sedangkan 1 kasus terjadi karena warga jatuh ke sungai.
"Kegiatan MCK memang sangat rawan, karena buaya sering datang secara tiba-tiba. Contohnya di Desa Ganepu, kejadian seperti ini pernah terjadi. Setelah kami berkoordinasi dengan kepala desa untuk menyediakan mesin air dan profil tank, risiko konflik berhasil ditekan," paparnya.
Langkah Antisipasi
Muriansyah menegaskan pentingnya kesadaran masyarakat dalam mengurangi risiko serangan buaya. Ia mengimbau warga untuk tidak beraktivitas di sungai, terutama pada malam hari, dan menghindari kebiasaan yang dapat menarik perhatian buaya.
"Kami mengingatkan masyarakat untuk selalu berhati-hati, terutama di wilayah yang rawan seperti Mentaya Hilir Selatan. Dengan kerja sama semua pihak, konflik ini bisa ditekan," imbuhnya.
Dengan meningkatnya aktivitas di sekitar sungai dan potensi konflik yang masih ada, BKSDA terus berupaya melakukan edukasi kepada masyarakat agar tetap waspada dan menjaga keselamatan. (KLIK-RED)