Home Peristiwa 1.001 Titik Panas Terdeteksi di Kotim, Pulau Hanaut dan Seranau Mendominasi

1.001 Titik Panas Terdeteksi di Kotim, Pulau Hanaut dan Seranau Mendominasi

  Redaksi   | Minggu , 18 Oktober 2026
95a50e4ec0e3be462bdd64119e337abe.jpg
Kebakaran lahan di wilayah Kecamatan Mentaya Hilir Selatan, Kabupaten Kotawaringin Timur, Sabtu (17/10). (Damkar Pos Samuda/Klikkalteng.id)

KLIK.SAMPIT – Sebanyak 1.001 titik panas (hotspot) terdeteksi di Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim), Kalimantan Tengah, dalam pemantauan 24 jam terakhir hingga Minggu (18/10) pukul 16.00 WIB. Kecamatan Pulau Hanaut, Seranau, dan Teluk Sampit mencatat jumlah titik panas terbanyak berdasarkan rekapitulasi data BMKG Stasiun Meteorologi H. Asan Sampit dan BPBD Kotim.

Berdasarkan tingkat kepercayaan deteksi, sebanyak 977 titik berada pada kategori menengah, tujuh titik kategori tinggi, dan 17 titik kategori rendah. Data tersebut dipantau menggunakan satelit NOAA-20 dan SNPP dengan instrumen VIIRS.

“Pulau Hanaut mencatat 253 titik panas. Sebaran terbanyak berada di Desa Bapinang Hilir Laut dengan 49 titik, disusul Bapinang Hilir sebanyak 48 titik dan Satiruk sebanyak 42 titik. Desa Ganepo tercatat memiliki 31 titik, sementara Bapinang Hulu 24 titik,” ungkap Koordinator Satuag Petugas Karhutla Kotim Rihel, Minggu (18/10).

Di Kecamatan Seranau, terdapat 239 titik panas. Konsentrasi terbesar berada di Desa Ganepo dengan 190 titik, disusul Mentaya Seberang sebanyak 43 titik. Sementara itu, Teluk Sampit mencatat 216 titik panas, dengan 128 titik berada di Desa Lampuyang dan 77 titik di Ujung Pandaran.

Sebaran lainnya terpantau di Kecamatan Kota Besi sebanyak 70 titik, Antang Kalang 63 titik, Mentaya Hulu 50 titik, Mentaya Hilir Utara 51 titik, Mentawa Baru Ketapang 17 titik, serta Telaga Antang 14 titik.

Di Kota Besi, Desa Camba menjadi wilayah dengan jumlah terbanyak, yakni 57 titik panas. Adapun di Antang Kalang, Tumbang Manya mencatat 25 titik dan Kuluk Telawang 21 titik.

Di Mentaya Hilir Utara, sebanyak 21 titik terdeteksi di Bagendang Tengah, 15 titik di Bagendang Hilir, dan delapan titik di Bagendang Hulu. Sementara itu, di Mentaya Hulu, sebaran tertinggi tercatat di Pahirangan dengan 11 titik, disusul Tanjung Bantur dengan delapan titik.

Data titik panas menjadi salah satu indikator untuk membantu pemantauan potensi kebakaran hutan dan lahan. Namun, deteksi satelit tidak serta-merta memastikan seluruh titik merupakan kebakaran aktif. Verifikasi lapangan tetap diperlukan untuk mengetahui kondisi sebenarnya.

Dengan sebaran yang terkonsentrasi di sejumlah kecamatan, pemantauan dan pemeriksaan lapangan menjadi penting untuk menentukan lokasi yang membutuhkan penanganan lebih lanjut. (KLIK.RED)

 

Baca Juga

Ikuti Kami