KLIK.SAMPIT - Sebagian masyarakat Kotawaringin Timur, khususnya peladang, hingga kini masih tergantung dengan tradisi membuka lahan dengan cara bakar. Hal ini lah yang dinilai menjadi salah satu masih banyaknya lahan terlantar di daerah itu.
Sekretaris Komisi II DPRD Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim), Syahbana menyebutkan, sejumlah titik di Kotim masih banyak menyisakan lahan terlantar.
Hal itu diketahui, ketika pihaknya melakukan reses ke daerah pemilihan (dapil). Mereka menerima keluhan kurangnya modal dan kemampuan untuk membuka dan mengelola lahan menjadi alasan lahan terlantar.
"Masyarakat ini mau saja mengelola tanah, namun mereka tidak bisa membuka lahan jika sistem manual. Tidak sedikit yang membuka lahan dengan manual kemudian terbakar lalu masuk penjara. Hal ini yang mereka takutkan,” ujarnya, Selasa (12/4).
Ia juga mengakui, kemampuan masyarakat membuka lahan tanpa sistem bakar masih sangat minim. Maka dari itulah, pemerintah kabupaten mulai tahun ini didesak untuk membantu petani yang ingin mengelola lahan.
“Persoalan di kalangan petani untuk bercocok tanam ada di bibit dan pembukaan lahan. Mereka tidak bisa membuka lahan tanpa sistem bakar. Maka dari itu saya melalui Komisi II mendorong bagaimana caranya pemerintah membantu untuk membuka lahan masyarakat ini,” tegasnya.
Syahbana berharap kepada Dinas Pertanian Kotim beserta instansi terkait lainnya untuk memikirkan lahan terlantar ini bagaimana caranya bisa fungsional dan bermanfaat bagi masyarakat. (KLIK-RED/*)