KLIK. SAMPIT – S, siswi madrasah ibtidaiyah (MI) di Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) yang sebelumnya diduga mengalami perundungan berulang, kini memutuskan melanjutkan pendidikan di SD Negeri 1 Bamang Tengah. Keputusan tersebut diambil keluarga dengan mempertimbangkan lokasi sekolah yang lebih dekat dari rumah.
Kepala Dinas Pendidikan (Kadisdik) Kotim, Yolanda Lonita Fenisia, bersama jajaran mendatangi rumah S pada Selasa (27/10) pagi. Kunjungan itu dilakukan untuk melihat kondisi anak dan keluarganya sekaligus membahas kelanjutan pendidikannya.
Dalam kunjungan tersebut, Dinas Pendidikan bersinergi dengan Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) Kotim, termasuk perwakilan pengurus di Kecamatan Mentawa Baru Ketapang dan Baamang. Koordinasi juga melibatkan instansi terkait serta penyaluran sejumlah bantuan untuk mendukung pemulihan kondisi psikologis S.
Yolanda mengatakan, pihaknya telah membicarakan pilihan sekolah bersama S dan keluarganya. Dari pembicaraan itu, keluarga memutuskan agar S melanjutkan pendidikan di sekolah yang lebih dekat dengan tempat tinggal.
“Kami menanyakan kembali kepada Ananda, akan melanjutkan sekolah di mana. Keputusan keluarga, Ananda akan melanjutkan pendidikan di satuan pendidikan yang terdekat dari rumah, yakni SD Negeri 1 Bamang Tengah,” ujar Yolanda.
Ia menegaskan, keputusan tersebut merupakan pilihan keluarga yang dihormati Dinas Pendidikan. Pihaknya berharap S dapat kembali mengikuti kegiatan belajar dengan lebih nyaman.
Selain memastikan keberlanjutan pendidikan, pendampingan juga diperlukan untuk membantu pemulihan kondisi psikologis S setelah dugaan perundungan yang dialaminya.
Sebelumnya, Bupati Kotim Halikinnor mendatangi rumah S pada Rabu (21/10) untuk melihat langsung kondisi anak dan keluarganya. Pemerintah daerah juga menyiapkan pendampingan melalui koordinasi dengan Kantor Kementerian Agama serta Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DP3AP2KB).
Tim psikolog direncanakan dilibatkan untuk membantu pemulihan kondisi psikologis S agar ia dapat kembali merasa aman dan percaya diri dalam menjalani aktivitas sehari-hari maupun kegiatan belajar.
Yolanda juga mengingatkan pentingnya menciptakan lingkungan sekolah yang aman dan nyaman bagi seluruh siswa. Ia berharap budaya sekolah aman dan nyaman kembali diaktifkan, termasuk dengan mengoptimalkan peran guru wali untuk mendeteksi dan menangani persoalan siswa sejak dini.
“Kami berharap kejadian seperti ini tidak terulang di satuan pendidikan mana pun, baik yang berada di bawah kewenangan Dinas Pendidikan maupun instansi lainnya,” tegasnya.
Ia menambahkan, jika ditemukan kasus serupa, Dinas Pendidikan akan mengevaluasi satuan pendidikan terkait dan berkoordinasi melalui kelompok kerja (pokja) Budaya Sekolah Aman dan Nyaman untuk menentukan tindak lanjut berdasarkan temuan di lapangan.
Melalui sinergi keluarga, sekolah, pemerintah, dan organisasi profesi guru, S diharapkan dapat melanjutkan pendidikan dalam lingkungan yang aman dan nyaman serta tetap memperoleh haknya untuk belajar. (KLIK-RED)