KLIK. SAMPIT – Jumlah titik panas atau hotspot di Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) terpantau menurun drastis setelah hujan mengguyur sejumlah wilayah. Berdasarkan rekapitulasi pemantauan 24 jam terakhir yang tercatat pada Selasa (27/10), hanya satu titik panas terdeteksi di wilayah Kotim.
Data Stasiun Meteorologi H. Asan Kotawaringin Timur mencatat titik panas tersebut berada di Desa Tumbang Manya, Kecamatan Antang Kalang. Pengamatan menggunakan satelit SNPP dengan tingkat kepercayaan 8 dan radius kemungkinan 1.125 meter.
Kondisi cuaca yang lebih cerah mulai dirasakan warga. Sinar matahari yang sebelumnya tertutup asap kini kembali terlihat, meski bau asap masih tercium di sejumlah tempat.
“Lumayan hari cuacanya. Sinar matahari juga sudah terlihat, sebelumnya tertutup asap,” kata Anto, warga setempat.
Kendati kondisi langit mulai membaik, kabut asap belum sepenuhnya hilang. Aroma asap yang masih tercium menunjukkan bahwa persoalan kualitas udara belum dapat dianggap selesai hanya karena jumlah titik panas yang terdeteksi menurun.
Berdasarkan prakiraan curah hujan BMKG untuk periode 27 Oktober pukul 07.00 WIB hingga 28 Oktober pukul 07.00 WIB, wilayah Kotim secara umum berpotensi mengalami hujan ringan. Hujan diharapkan membantu membasahi lahan yang mengering dan menekan risiko kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
Namun, hujan ringan belum menjamin seluruh lahan yang rawan terbakar kembali basah secara merata. Peta potensi kemudahan terjadinya kebakaran di Kalimantan Tengah juga menunjukkan sebagian wilayah selatan hingga barat berada dalam kategori mudah hingga sangat mudah terbakar pada 27 Oktober.
Pada 28 Oktober, area dengan kategori sangat mudah terbakar diprakirakan meluas di sejumlah wilayah bagian tengah dan selatan Kalimantan Tengah. Kondisi tersebut menjadi pengingat bahwa penurunan jumlah titik panas perlu diikuti kewaspadaan terhadap potensi kebakaran baru.
Data hotspot merupakan hasil deteksi satelit dan tidak serta-merta menggambarkan seluruh kejadian kebakaran di lapangan. Karena itu, perkembangan karhutla tetap perlu dipantau melalui data terbaru, pemeriksaan lapangan, serta informasi kualitas udara.
Warga berharap cuaca yang lebih cerah dan hujan yang turun dapat membantu mengurangi kabut asap. Meski demikian, pencegahan karhutla tetap diperlukan agar kondisi udara tidak kembali memburuk dan aktivitas masyarakat dapat berlangsung lebih nyaman. (KLIK-RED)