KLIK. PALANGKA RAYA – Seorang peternak ayam di Palangka Raya, Satrio, mengaku mengalami kerugian hingga Rp200 juta setelah 7.000 ekor ayam miliknya mati akibat gangguan pasokan listrik di kawasan Bukit Rawi. Ribuan ayam berusia 16 hari itu mati dalam satu malam setelah mesin genset cadangan di kandang mengalami kerusakan.
Sebagai bentuk protes, Satrio mendatangi Kantor UP3 PLN Palangka Raya, Jumat (30/10). Ia membawa bangkai ayam dari kandangnya untuk menyampaikan langsung dampak pemadaman listrik yang dialaminya.
Menurut Satrio, pemadaman listrik yang terjadi berulang kali menyebabkan genset cadangan di kandangnya mengalami kerusakan. Akibatnya, sistem sirkulasi udara tidak berfungsi sehingga ayam-ayam di dalam kandang mati.
“Apesnya karena PLN kembali lagi pemadaman, genset kita kembali jebol lagi, tidak terpasok udara lagi, akhirnya ayamnya jadi korban,” ujar Satrio saat menyampaikan aspirasinya di depan kantor PLN.
Ia menyebut kejadian tersebut bukan kali pertama dialaminya. Sebelumnya, sekitar 5.000 ekor ayam miliknya juga mati akibat persoalan teknis pasokan listrik yang serupa.
Satrio memperkirakan total kerugian dalam kejadian terbaru mencapai Rp200 juta. Nilai tersebut mencakup biaya pembelian bibit ayam, pakan, hingga kebutuhan operasional harian selama pemeliharaan.
Selain meminta pasokan listrik lebih stabil, ia juga berharap PLN memberikan kompensasi atas kerugian yang dialami pelaku usaha akibat gangguan kelistrikan.
“Sampai dengan sekarang, pemadaman itu masih berlanjut dan yang paling penting lagi tidak ada kompensasi bagi kami yang memang real terdampak,” katanya.
Hingga berita ini disusun, belum terdapat keterangan dari pihak PLN mengenai penyebab gangguan listrik yang berdampak pada peternakan Satrio maupun tanggapan atas tuntutan kompensasi tersebut.
Peristiwa ini kembali memperlihatkan dampak gangguan listrik terhadap kegiatan usaha yang bergantung pada peralatan pendukung. Bagi peternakan ayam, kestabilan pasokan listrik menjadi kebutuhan penting karena berkaitan dengan sirkulasi udara dan kondisi lingkungan di dalam kandang. (KLIK-RED)