Home DPRD Kotawaringin Timur Hanjalipan dan Sejumlah Wilayah Rawan Banjir, Mariani Minta Kesiapsiagaan Ditingkatkan

Hanjalipan dan Sejumlah Wilayah Rawan Banjir, Mariani Minta Kesiapsiagaan Ditingkatkan

  Sugianto   | Senin , 02 November 2026
a94100059ebc43d25b526af5a7292517.jpg
Ketua Komisi IV DPRD Kabupaten Kotawaringin Timur Mariani. (Istimewa)

KLIK. SAMPIT – Ketua Komisi IV DPRD Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) Mariani, meminta pemerintah daerah meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi potensi banjir menjelang musim hujan. Salah satu wilayah yang menjadi perhatiannya adalah Desa Hanjalipan, Kecamatan Kota Besi, yang hampir setiap tahun menghadapi persoalan banjir.

Mariani mengatakan, pengalaman banjir yang berulang di sejumlah kawasan seharusnya menjadi dasar bagi pemerintah untuk menyiapkan langkah antisipasi lebih awal. Penanganan tidak semestinya baru dilakukan setelah air meluap dan mulai merendam permukiman warga.

Menurutnya, pola wilayah yang berpotensi terdampak banjir di Kotim relatif sudah diketahui. Namun, ketinggian air dan dampak yang ditimbulkan dapat berbeda setiap tahun, bergantung pada kondisi cuaca dan intensitas hujan.

"Kita sudah tahu kalau musim hujan ada wilayah yang berpotensi banjir, begitu juga ketika musim panas ada ancaman kebakaran. Pengalaman itu seharusnya membuat kita lebih siap. Jangan sampai banjir sudah terjadi dan air meluap, baru kemudian kita bergerak," tuturnya, Senin (2/11/2026).

Politisi Partai Golkar dari daerah pemilihan IV tersebut menilai, pemerintah perlu menyusun strategi berdasarkan karakteristik masing-masing wilayah. Persiapan itu mencakup pemetaan daerah rawan, kebutuhan penanganan, kesiapan petugas, hingga perhatian terhadap masyarakat yang berpotensi terdampak.

Selain wilayah bantaran sungai, Mariani menyoroti kondisi drainase di kawasan perkotaan Sampit. Di sejumlah titik, saluran air masih ditemukan tersumbat sampah dan ditumbuhi rumput liar sehingga berpotensi menghambat aliran air saat hujan deras.

Beberapa kawasan yang perlu mendapat perhatian antara lain Baamang Tengah, Baamang Hulu, serta sejumlah wilayah di Kecamatan Mentawa Baru Ketapang.

"Saya melihat masih ada drainase yang tersumbat sampah, kemudian ditumbuhi rumput-rumputan. Ini perlu menjadi perhatian. Pembersihan saluran air harus lebih digencarkan supaya alirannya tidak terhambat ketika hujan," ujarnya.

Mariani berharap instansi terkait meningkatkan pemeriksaan dan pemeliharaan drainase secara berkala. Pembersihan saluran air, menurutnya, perlu menjadi kegiatan rutin dan tidak hanya dilakukan setelah muncul keluhan masyarakat.

Ia juga mengingatkan pentingnya peran masyarakat dalam menjaga kebersihan saluran air. Kebiasaan membuang sampah ke drainase dapat memperparah penyumbatan dan mengurangi kemampuan saluran mengalirkan air hujan.

Perhatian khusus juga perlu diberikan kepada warga yang tinggal di sepanjang bantaran sungai. Mariani memahami sebagian masyarakat memilih bertahan karena sungai berkaitan erat dengan kehidupan dan mata pencaharian mereka, terutama bagi warga yang bekerja sebagai nelayan.

Karena itu, ia meminta pemerintah memahami kondisi sosial dan ekonomi masyarakat sebelum mengambil kebijakan relokasi. Namun, keselamatan warga tetap harus menjadi prioritas melalui pendampingan, bantuan, dan kesiapan penanganan ketika banjir terjadi.

Mariani berharap koordinasi antarinstansi diperkuat agar pembenahan drainase di kawasan perkotaan berjalan beriringan dengan kesiapsiagaan di wilayah rawan banjir. Dengan persiapan sejak dini, pemerintah diharapkan dapat mengurangi risiko dan dampak banjir terhadap kehidupan masyarakat. (KLIK-RED)

 

Baca Juga

Ikuti Kami