Home Pemerintah Pemprov Kalteng Belum Ditemukan Kasus Omicron di Kalteng

Belum Ditemukan Kasus Omicron di Kalteng

  Redaksi   | Senin , 31 Januari 2022
78b7e140a37e232b63d5e7aa1881cc88.jpg
Kepala Dinas Kesehatan Kalteng, Suyuti Syamsul memberi keterangan mengenai kasus Covid-19.

KLIK. PALANGKA RAYA – Kepala Dinas Kesehatan Kalteng, Suyuti Syamsul menegaskan, sampai dengan sekarang ini masih belum ditemukan kasus penularan Covid-19 varian Omicron di wilayah provinsi ini.

Pernyataan ini diungkapkannya menanggapi kenaikan kasus yang terlihat dalam beberapa hari belakangan ini, terlebih dengan adanya dugaan-dugaan pemeriksaan sampel yang mengarah pada varian Omicron. 

“Sampai sekarang belum kita temukan di Kalteng. Biarpun kita juga sudah mengirimkan sampel ke laboratorium Kementerian Kesehatan, yang keluar hasilnya hanya positif Covid-19 biasa bukan Omicron,” kata dia, Senin (31/1). 

Mengenai pengiriman sampel ke laboratorium Kementerian Kesehatan, Suyuti menegaskan pengiriman itu bukan karena ada kecurigaan Omicron. Akan tetapi pengiriman sampel ini merupakan prosedur yang ditetapkan kementerian mengenai deteksi cepat varian Omicron.

Bahkan lanjut dia, pengiriman sampel itu dilakukan secara berkala sejak varian Omicron dinyatakan masuk di Indonesia. Di mana sampel yang dikirim adalah sampel yang diambil dari orang yang positif Covid-19 setelah melakukan perjalanan keluar daerah, atau orang yang pernah kontak dengan pelaku perjalan luar daerah.

“Tidak berarti yang kita kirim itu karena diduga ada Omicron-nya, tapi memang pengiriman sampel itu merupakan prosedur standar,” ucapnya.

Maka dari itulah, kenaikan kasus yang terlihat dalam beberapa hari belakangan bukan karena persoalan kemunculan varian baru. Sebab, kata dia, terhadap beberapa faktor lain yang bisa saja menjadi pemicu kasus penularan Covid-19 terlihat naik.

Salah satu kemungkinan dipengaruhi oleh tingginya tingkat mobilisasi masyarakat pada akhir tahun hingga awal tahun kemarin. Kemudian masalah kurangnya ketataatan terhadap protokol kesehatan turut menjadi penyebab penularan meningkat.

“Wajar sih terjadi kenaikan, kan protokol kesehatan sudah ambyar di mana-mana. Lalu tahun baru kemarin ada pergerakan massa yang cukup besar, jadi wajar terjadi kenaikan kasus,” katanya mengakhiri. (KLIK-RED)

Baca Juga

Ikuti Kami