KLIK.SAMPIT – Keterbatasan sumber air dan sulitnya akses menuju titik api menjadi kendala penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim), Kalimantan Tengah. Bupati Kotim Halikinnor menyampaikan persoalan tersebut kepada Menteri Kehutanan RI Raja Juli Antoni saat kunjungan kerja di Sampit, Sabtu (17/10) malam.
Halikinnor berharap dukungan pemadaman melalui udara atau water bombing dapat membantu mempercepat penanganan, terutama di kawasan hutan yang sulit dijangkau melalui jalur darat.
Dua lokasi yang menjadi perhatian petugas adalah Desa Ganepo, Kecamatan Seranau, dan kawasan Camba, Kecamatan Kota Besi. Titik kebakaran di Ganepo dilaporkan berjarak sekitar 7–9 kilometer dari tepian Sungai Mentaya, sedangkan lokasi di Camba berada di kawasan hutan.
Dalam penanganan karhutla, sebanyak 448 personel di luar relawan dikerahkan. Mereka didukung 29 unit mobil, 113 mesin alkon, selang pemadam sepanjang sekitar 5.000 meter, serta 43 mobil tangki air.
Namun, kemarau panjang menyebabkan embung dan sejumlah sumur bor mengering. Kondisi tersebut menyulitkan pemenuhan kebutuhan air untuk pemadaman, terutama di lokasi yang jauh dari sumber air dan sulit dijangkau.
Dukungan water bombing diharapkan menjadi salah satu opsi untuk menjangkau titik api yang sulit ditangani dari darat. Meski demikian, efektivitas penanganan tetap bergantung pada kondisi lapangan dan dukungan operasional yang tersedia.
Pemerintah Kabupaten Kotim bersama unsur terkait terus melakukan upaya pengendalian melalui pengerahan personel dan peralatan serta koordinasi di lapangan. Keterbatasan air dan akses menjadi tantangan yang perlu diatasi agar pemadaman dapat berjalan lebih efektif.
Penanganan karhutla membutuhkan dukungan lintas instansi, terutama ketika kebakaran terjadi di kawasan hutan yang sulit dijangkau. Respons Kementerian Kehutanan terhadap harapan dukungan pemadaman udara tersebut menjadi hal penting untuk ditindaklanjuti. (KLIK-RED)