KLIK. SAMPIT - Anggaran sebesar Rp3 miliar untuk mendukung kontingen Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) pada Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) dinilai belum mencukupi kebutuhan seluruh cabang olahraga (cabor). Karena itu, Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Kotim diharapkan memprioritaskan cabor yang memiliki peluang meraih medali.
Anggota Komisi III DPRD Kotim Syahbana mengatakan, keterbatasan anggaran tersebut telah diketahui sejak pembahasan bersama Dinas Pemuda dan Olahraga (Dispora) Kotim. Dana yang disiapkan pemerintah daerah diperkirakan tidak mampu membiayai keberangkatan seluruh cabor yang berjumlah sekitar 33.
“Kalau seluruh cabang olahraga diberangkatkan, kebutuhan dananya diperkirakan jauh melampaui anggaran yang tersedia,” ungkap Syahbana, Rabu (21/10).
Ia menjelaskan, anggaran tersebut sebelumnya telah disepakati sebagai dukungan bagi kontingen. Namun, kebutuhan pembiayaan dinilai masih lebih besar daripada dana yang tersedia.
“Pada saat pembahasan kemarin, kami menyepakati anggaran tersebut Rp3 miliar. Namun, kalau berbicara cukup atau tidak, memang sudah disampaikan bahwa anggaran tersebut tidak cukup untuk membiayai semua cabang olahraga,” ujarnya.
Menurut Syahbana, kebutuhan anggaran tidak hanya mencakup keberangkatan atlet ke arena pertandingan. Kontingen juga memerlukan biaya untuk seleksi, pembinaan, dan berbagai kebutuhan teknis sebelum mengikuti kompetisi tingkat provinsi.
Sebagian anggaran juga disebut telah digunakan untuk mendukung tahapan persiapan dan seleksi. Kondisi ini membuat pengelola kontingen perlu menghitung kembali kebutuhan pembiayaan agar sesuai dengan dana yang tersedia.
Syahbana mengatakan, peluang penambahan anggaran sebelumnya telah dibahas. Namun, terdapat kendala regulasi terkait pengajuan proposal dana hibah yang menjadi dasar penganggaran kegiatan.
Dengan kondisi tersebut, ia menilai KONI Kotim perlu menyusun strategi agar penggunaan anggaran lebih efektif dan kebutuhan kontingen dapat disesuaikan dengan kemampuan keuangan.
“Kalau memang anggaran tidak mencukupi, tentu harus ada perhitungan yang matang. Jangan sampai seluruh cabang olahraga direncanakan berangkat, tetapi kebutuhan pembiayaannya justru tidak terpenuhi,” katanya.
Syahbana juga mengaku menerima informasi bahwa sejumlah cabor berencana mengikuti Porprov dengan biaya mandiri. Menurutnya, rencana tersebut perlu dikomunikasikan secara jelas agar tidak menimbulkan ketidakpastian bagi atlet maupun pengurus cabor.
Ia menegaskan, penentuan cabor yang diberangkatkan perlu mempertimbangkan kemampuan anggaran dan peluang prestasi. Cabor yang berpotensi menyumbangkan medali emas atau mempertahankan prestasi sebelumnya dinilai layak menjadi prioritas.
“Kami berharap KONI bisa selektif dalam menentukan cabang olahraga yang diberangkatkan, sesuai dengan kemampuan anggaran yang tersedia. Tidak semua cabang olahraga bisa diikuti,” tegasnya.
Ia menambahkan, KONI memiliki pemahaman mengenai kemampuan atlet dan peta persaingan di setiap cabor. Karena itu, penentuan prioritas diharapkan mempertimbangkan peluang meraih hasil terbaik bagi Kotim.
Terkait informasi penundaan pelaksanaan Porprov, Syahbana mengaku telah mengetahuinya. Namun, ia belum dapat memastikan dampak perubahan jadwal tersebut terhadap penggunaan anggaran, termasuk jumlah dana yang telah terserap untuk persiapan kontingen.
“Kita perlu melihat perkembangan persiapannya terlebih dahulu. Untuk penggunaan anggaran dan berapa yang sudah terserap, sebaiknya dikonfirmasi kepada KONI dan Dispora karena mereka yang menangani langsung kegiatan tersebut,” ujarnya. (KLIK-RED)