Home Berita Metropolis Siswi MI di Baamang Diduga Dirundung, Sempat Enggan Sekolah

Siswi MI di Baamang Diduga Dirundung, Sempat Enggan Sekolah

  Sugianto   | Rabu , 21 Oktober 2026
cbd653fe1a4d4789c8ec7a3760ab2cd7.jpg
Arini dan anaknya S saat menceritakan dugaan jadi korban perundungan di sekolah. (Istimewa)

KLIK. SAMPIT - Seorang siswi berusia 10 tahun di salah satu Madrasah Ibtidaiyah (MI) di Kecamatan Baamang, Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim), diduga mengalami perundungan selama sekitar enam bulan. Anak tersebut disebut kerap mendapat ejekan terkait kondisi ekonomi keluarganya hingga beberapa kali enggan berangkat sekolah.

Ibu anak tersebut, Arini (51), mengatakan putrinya kerap mengadu setelah mendapat perlakuan tidak menyenangkan dari teman sekolahnya yang juga merupakan tetangganya. Menurut Arini, anaknya pernah diejek miskin, dianggap tidak memiliki uang, hingga diteriaki maling.

“Di sekolah dikatain orang miskin, nggak pernah megang duit. Lalu diteriaki maling,” ujar Arini, Rabu (21/10).

Arini mengatakan perlakuan tersebut membuat putrinya sedih dan beberapa kali tidak mau berangkat sekolah. Ia harus membujuk anaknya agar tetap mengikuti kegiatan belajar.

Selain dugaan perundungan secara verbal, kursi sepeda milik anaknya juga pernah dirobek. Namun, Arini mengaku belum mengetahui secara pasti siapa yang merusak barang tersebut.

Keluarga kemudian berupaya mengembalikan semangat anaknya untuk bersekolah. Kakak anak tersebut membelikan kursi sepeda pengganti setelah kursi sebelumnya rusak.

Di sisi lain, Arini mengaku keluarganya menghadapi keterbatasan ekonomi. Ia tidak lagi mampu melakukan pekerjaan berat setelah mengalami kecelakaan pada tahun lalu yang menyebabkan kakinya sakit.

Sebelum bersekolah di tempatnya sekarang, anak Arini pernah berjualan keripik singkong di sekolah untuk membantu memenuhi kebutuhan sehari-hari. Dari kegiatan tersebut, ia bisa memperoleh penghasilan sekitar Rp30 ribu per hari.

Namun, setelah pindah ke sekolah yang sekarang, anaknya tidak lagi berani berjualan karena khawatir mendapat perlakuan tidak menyenangkan. Kondisi itu menambah kekhawatiran Arini terhadap kenyamanan putrinya dalam mengikuti kegiatan belajar.

Saat ini, Arini tinggal bersama anaknya di sebuah rumah sederhana di Kecamatan Baamang. Anak tersebut sempat terlambat masuk sekolah karena keterbatasan biaya dan kini duduk di kelas III setingkat sekolah dasar.

Untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, Arini dan anaknya mengandalkan bantuan dari rekan serta anak-anaknya yang lain. Ayah anak tersebut, yang telah lama berpisah dengan Arini, juga masih memberikan uang untuk kebutuhan putrinya.

Arini berharap dugaan perundungan tersebut tidak kembali dialami anaknya. Ia ingin putrinya dapat bersekolah dengan tenang tanpa takut mendapat ejekan dari teman-temannya.

“Saya harap tidak ada lagi perundungan yang dialaminya. Kasihan dia,” imbuhnya.

Hingga berita ini ditulis, pihak sekolah belum memberikan keterangan resmi terkait dugaan perundungan tersebut. Konfirmasi dari pihak sekolah diperlukan untuk memperoleh penjelasan mengenai kejadian yang dilaporkan keluarga. (KLIK-RED)

 

Baca Juga

Ikuti Kami