KLIK. PANGKALAN BUN - Produsen tempe dan tahu di Kotawaringin Barat (Kobar) melakukan adaptasi dengan memperkecil ukuran. Hal itu dilakukan demi mengantisipasi melambungnya harga bahan baku tempe dan tahu yakni kedelai impor.
"Sekarang ini ada produsen yang menaikkan harga, tapi ada juga yang mengurangi takaran bahan, jadi ukurannya diperkecil. Kalau saya pilihnya ukuran tempe dan tahu diperkecil dan pembeli tetap seperti biasanya," kata Syariyah, Kamis (6/1).
Perempuan yang biasa disapa Bu Syam memilih memperkecil ukuran agar tidak mengalami kerugian selama harga kacang kedelai mengalami kenaikan. Saat ini harga kedelai impor mahal, membuat dirinya dan pengusaha tahu dan tempe lainnya banyak mengeluh.
"Bahan baku tahu dan tempe yang didatangkan dari luar negeri terus mengalami kenaikan. Kenaikan Harga sangat dirasakan dalam satu bulan terakhir ini mas," keluh Bu Syam, yang sudah memproduksi tempe dan tahu ini sejak tahun 1990 silam.
Sebelumnya harga kedelai impor ini Rp 350.000 per sak, kini mencapai Rp 550.000 per sak, sedangkan harga eceran Rp 11.000 per kilogram, sebelumnya Rp 7.000 per kilogramnya.
Kenaikan harga ini dipicu oleh naiknya biaya pengiriman dari luar negeri. Sehingga memaksa pengusaha tempe dan tahu terpaksa memperkecil ukuran, lebih kecil dari sebelumnya.
Dia memili tak menaikkan harga jual karena menurutnya sangat sulit dengan kondisi ekonomi saat ini lesu.
Sementara dari sisi tenaga kerja, dia memastikan tidak ada pengurangan pekerja, kerena dia menggaji berdasarkan borongan. Dalam sehari mereka mampu memproduksi 250 kilogram atau 25 sak per hari.
Kenaikan harga kedelai impor bukan pertama kali dirasakan. Hanya saja saat dalam kondisi pandemi Covid-19 ini dampaknya sangat terasa. Tentu ini sangat merepotkan para pengusaha. (KLIK-RED)