KLIK.SAMPIT – Awal musim hujan di Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) diprakirakan mundur dari Oktober menjadi November 2026. Fenomena El Nino juga berpotensi membuat curah hujan lebih rendah dari kondisi normal hingga awal 2027.
Kepala BMKG Sampit Mulyono Leo Nardo mengatakan, perubahan pola musim tersebut perlu diantisipasi, terutama oleh masyarakat yang bergantung pada air hujan untuk kebutuhan sehari-hari dan pertanian.
“Biasanya awal musim hujan terjadi pada Oktober. Namun, kali ini diperkirakan mundur menjadi November. Jadi, awal musim hujannya bergeser dan durasinya lebih singkat,” ujarnya, Minggu (11/10).
Dalam kondisi normal, musim hujan di Kotim umumnya berlangsung dari Oktober hingga Juni. Namun, musim hujan kali ini diperkirakan baru dimulai pada November dan berlangsung hingga sekitar Mei atau Juni.
Selain bergeser, curah hujan pada November hingga Januari juga berpotensi lebih rendah dibandingkan kondisi normal. Mulyono menjelaskan, curah hujan normal di Kotim dapat mencapai 200 hingga 300 milimeter per bulan, bahkan 400 hingga 500 milimeter di sejumlah wilayah.
“Musim hujan tetap terjadi, tetapi jumlah curah hujan yang kita terima tidak sebanyak pada kondisi normal,” jelasnya.
Kondisi tersebut berpotensi memengaruhi ketersediaan air, terutama bagi petani yang mengandalkan sistem tadah hujan. Karena itu, masyarakat diimbau menggunakan air secara bijak dan menyesuaikan aktivitas pertanian dengan ketersediaan pasokan air.
“Manfaatkan air semaksimal mungkin, terutama untuk pertanian tadah hujan yang membutuhkan pasokan air cukup banyak. Penggunaan air untuk konsumsi juga perlu diperhatikan,” imbaunya.
Meski curah hujan diprakirakan berkurang, masyarakat juga diminta tetap mewaspadai potensi banjir, khususnya di wilayah hilir yang dapat terdampak peningkatan debit air dari daerah hulu.
Sementara itu, risiko kebakaran hutan dan lahan cenderung lebih kecil ketika wilayah mulai memasuki musim hujan. Namun, masyarakat tetap perlu memantau perkembangan cuaca dan mengikuti informasi resmi BMKG.
Perubahan pola musim ini membuat pengelolaan air menjadi hal penting bagi warga Kotim, terutama untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga dan menjaga keberlangsungan pertanian di tengah curah hujan yang diprakirakan berkurang. (KLIK-RED)