KLIK. SAMPIT - Dinas Kesehatan Kabupaten Kotawaringin Timur (Dinkes Kotim) mengingatkan ibu hamil untuk mengurangi paparan asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla) saat kualitas udara memburuk. Paparan polusi udara berpotensi meningkatkan risiko gangguan kehamilan, termasuk kelahiran prematur dan berat badan lahir rendah.
Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinkes Kotim Nugroho Kuncoro Yudho mengatakan, ibu hamil termasuk kelompok yang perlu mendapat perlindungan lebih ketika kabut asap melanda. Sebab, kondisi kesehatan ibu turut memengaruhi pertumbuhan dan perkembangan janin.
Menurutnya, asap karhutla mengandung berbagai polutan, salah satunya partikel halus PM2.5. Partikel berukuran sangat kecil ini dapat masuk jauh ke dalam paru-paru ketika terhirup.
Janin memang tidak menghirup udara secara langsung seperti orang dewasa. Namun, janin bergantung pada tubuh ibu dan fungsi plasenta untuk memperoleh oksigen serta zat gizi selama berada dalam kandungan.
Nugroho menjelaskan, paparan polusi udara selama kehamilan menjadi perhatian karena berkaitan dengan proses peradangan, stres oksidatif, serta perubahan fungsi pembuluh darah dan plasenta.
Salah satu risiko yang banyak diteliti adalah kelahiran prematur, yakni kelahiran sebelum usia kehamilan mencapai 37 minggu. Bayi yang lahir terlalu dini berpotensi mengalami masalah kesehatan karena sejumlah organ tubuhnya belum berkembang secara optimal.
Meski demikian, Nugroho menegaskan, paparan asap tidak berarti setiap ibu hamil pasti mengalami gangguan kehamilan. Risiko tersebut perlu dipahami sebagai kemungkinan yang berkaitan dengan paparan polusi udara, bukan kepastian pada setiap individu.
“Pesan kesehatan yang paling tepat bukan membuat ibu hamil takut, tetapi mengurangi paparan, menjaga kehamilan dan periksa secara rutin,” ujarnya.
Untuk mengurangi risiko, ibu hamil disarankan membatasi aktivitas di luar ruangan ketika udara dipenuhi asap dan mengikuti informasi kualitas udara setempat. Jika harus beraktivitas di luar, penggunaan masker yang sesuai dapat membantu mengurangi paparan partikel halus, meski tidak menghilangkan seluruh risiko.
Nugroho juga mengingatkan pentingnya pemeriksaan kehamilan secara rutin. Langkah tersebut diperlukan untuk memantau kondisi ibu dan perkembangan janin, terutama selama kualitas udara memburuk akibat karhutla.
(KLIK-RED)