Home Pemerintah Kotawaringin Timur Api Karhutla Merembet ke Dekat Rumah Warga di Sampit, Pondok Hangus Terbakar

Api Karhutla Merembet ke Dekat Rumah Warga di Sampit, Pondok Hangus Terbakar

  Sugianto   | Jumat , 23 Oktober 2026
d0c9946169ed682be19e79a30dd88c54.jpg
Bupati Kotawaringin Timur Halikinnor turut memadamkan api dengan menyiram gambut yang terbakar di Jalan Pramuka atau Jalan Saudara, Kecamatan Mentawa Baru Ketapang, Jumat (23/10). (Istimewa)

KLIK.SAMPIT - Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di kawasan Jalan Pramuka hingga Jalan Saudara, Kecamatan Mentawa Baru Ketapang, Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim), meluas hingga mendekati rumah warga dan menghanguskan sebuah pondok. Kebakaran yang terjadi sejak Kamis (22/10) itu menjadi perhatian karena berlangsung saat kabut asap masih menyelimuti kawasan perkotaan Sampit.

Dalam beberapa hari terakhir, asap dilaporkan semakin menebal dan mengganggu aktivitas masyarakat. Kondisi tersebut juga menimbulkan kekhawatiran bagi warga yang tinggal di sekitar kawasan rawan kebakaran.

Pada Jumat (23/10), Bupati Kotim Halikinnor turun langsung ke kawasan Jalan Pramuka hingga Jalan Saudara untuk melihat kondisi kebakaran sekaligus membantu upaya pemadaman. Ia menyoroti munculnya titik api baru di tengah kota ketika dampak kabut asap masih dirasakan masyarakat.

“Jadi kita melihat kondisi tiga hari terakhir ini memang sepertinya asap agak menebal di daerah perkotaan. Ternyata muncul lagi titik api baru, seperti di Jalan Pramuka dan Jalan Saudara ini,” ujar Halikinnor.

Menurut dia, asap yang menyelimuti Sampit tidak hanya berpotensi berasal dari kebakaran di sekitar kota. Titik api di wilayah selatan juga dapat menyumbang kiriman asap ke kawasan perkotaan, bergantung pada arah dan pergerakan angin.

Kondisi tersebut membuat penanganan karhutla perlu disertai pemantauan perkembangan asap dan kemunculan titik api baru. Meski kebakaran di suatu lokasi telah ditangani, kualitas udara di kawasan perkotaan masih dapat terdampak oleh asap dari wilayah lain.

Ancaman karhutla juga tidak selalu berakhir ketika kobaran api di permukaan lahan tidak lagi terlihat. Pada lahan gambut, api dapat merambat ke lapisan bawah tanah dan menyisakan bara yang sulit terdeteksi secara kasatmata.

Karena itu, pendinginan menyeluruh dan pemeriksaan ulang perlu dilakukan untuk mengantisipasi kemungkinan api kembali menyala. Langkah ini menjadi penting terutama di kawasan yang berdekatan dengan rumah warga dan bangunan lainnya.

Selain mengancam permukiman, karhutla juga menimbulkan kabut asap yang dapat mengurangi jarak pandang pengguna jalan. Kondisi tersebut berisiko menyulitkan pengendara melihat kendaraan lain maupun kondisi jalan di depannya.

Paparan asap kebakaran juga dapat menyebabkan iritasi mata dan gangguan pernapasan, terutama pada anak-anak, lansia, serta orang dengan kondisi kesehatan rentan. Warga di sekitar lokasi kebakaran perlu mewaspadai perkembangan api dan menghindari area yang masih dipenuhi asap tebal.

Kebakaran yang mendekati permukiman hingga menghanguskan sebuah pondok menjadi pengingat bahwa penanganan karhutla membutuhkan pengawasan berkelanjutan. Selain pemadaman, pemantauan lahan yang terbakar dan pelaporan cepat dari masyarakat diperlukan untuk mengantisipasi munculnya titik api baru.(KLIK-RED)

 

Baca Juga

Ikuti Kami