Home Peristiwa Intrusi Air Laut Capai 105 Kilometer, Air Baku Perumdam Sampit Belum Normal

Intrusi Air Laut Capai 105 Kilometer, Air Baku Perumdam Sampit Belum Normal

  Redaksi   | Kamis , 29 Oktober 2026
fb66b76d8280b5c8e22b342dec71be24.jpg
Warga Kelurahan Mentaya Seberang mengatre pembagian air minum di dermaga feri penyeberangan Sampit, belum lama ini. (Usay Nor Rahmad/Klikkalteng.id)

KLIK. SAMPIT – Intrusi air laut yang mencapai sekitar 105 kilometer dari kawasan Laut Ujung Pandaran menjadi tantangan bagi penyediaan air bersih di Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim). Hingga Kamis (29/10), kadar garam air Sungai Mentaya yang menjadi sumber air baku Perumdam Tirta Mentaya Sampit masih tinggi, meskipun hujan telah mengguyur sejumlah wilayah.

Kepala Bagian Teknik Perumdam Tirta Mentaya Sampit, Edy Dyufriadi, mengatakan salinitas air sungai masih berada di angka 4.700. Kondisi tersebut membuat air yang didistribusikan kepada masyarakat diperuntukkan bagi kebutuhan mandi, cuci, dan kakus (MCK), bukan untuk langsung diminum.

Menurut Edy, hujan yang turun di wilayah Sampit belum cukup untuk memperbaiki kondisi air baku. Perumdam masih menunggu hujan dengan intensitas memadai, terutama di wilayah hulu Sungai Mentaya, agar tambahan aliran air tawar dapat membantu mengurangi pengaruh intrusi air laut.

“Harapan kita, kalau memang bulan November ini sudah bisa hujan, ya hujan yang di hulu sana,” kata Edy, Kamis (29/10/2026).

Ia menjelaskan, hujan yang hanya mengguyur kawasan Sampit belum tentu memberikan dampak signifikan terhadap kadar garam air sungai. Air hujan juga membutuhkan waktu untuk meresap ke tanah yang kering sebelum mengalir dan menambah debit air tawar.

“Kemarin kan hujannya hanya sekitar-sekitar ini saja. Tapi di hulu sana tidak hujan, sama saja sebenarnya,” ujarnya.

Edy menambahkan, hujan berdurasi singkat, misalnya sekitar 10 menit, belum tentu cukup untuk menurunkan salinitas secara berarti. Dampaknya bergantung pada intensitas dan sebaran hujan, khususnya di daerah hulu.

Di tengah kondisi air baku yang belum normal, Perumdam Tirta Mentaya berupaya memenuhi kebutuhan pelanggan melalui sumber air alternatif. Edy menyebut sumber air di Kecamatan Kota Besi mulai dimanfaatkan untuk mendukung pengisian tangki.

Perumdam juga menggunakan kapal jenis landing craft tank (LCT) untuk mengangkut air dalam jumlah lebih besar dibandingkan tangki biasa. Pengiriman tersebut dilakukan untuk membantu memenuhi kebutuhan masyarakat di wilayah seberang Sungai Mentaya.

Namun, upaya distribusi masih menghadapi kendala biaya pengangkutan dan keterbatasan armada tangki. Kondisi tersebut membuat pelayanan belum dapat memenuhi seluruh kebutuhan masyarakat secara maksimal, terutama warga yang kesulitan membeli air minum kemasan atau air galon.

Edy menyebut angka salinitas air saat ini mencapai 4.700, sedangkan batas yang digunakannya sebagai acuan untuk air layak dikonsumsi berada di bawah 500. Ia mengingatkan masyarakat agar tidak mengonsumsi air yang belum dipastikan memenuhi persyaratan kualitas air minum.

Perumdam berharap hujan dengan intensitas memadai turun di wilayah hulu pada November mendatang. Tambahan aliran air tawar diharapkan membantu memperbaiki kondisi Sungai Mentaya sehingga pasokan air baku dan pelayanan kepada masyarakat dapat kembali berjalan lebih optimal. (KLIK-RED)

 

Baca Juga

Ikuti Kami