Home Berita Metropolis Jalan Bengkirai Jadi Akses Alternatif, Kondisinya Masih Bergelombang

Jalan Bengkirai Jadi Akses Alternatif, Kondisinya Masih Bergelombang

  Sugianto   | Sabtu , 24 Oktober 2026
335793e027a095d0f1d2146f63ea8ab0.jpg
Kondisi Jalan Bekirai yang dijadikan jalan alternatif menjadi salah satu akses alternatif bagi pengendara sepeda motor setelah Jalan Tjilik Riwut di sekitar Bandara Haji Asan Sampit ditutup permanen. (Sugianto/Klikkalteng.id)

KLIK. SAMPIT – Jalan Bengkirai di Kelurahan Baamang Hulu, Sampit, Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim), menjadi salah satu akses alternatif bagi pengendara sepeda motor setelah Jalan Tjilik Riwut di sekitar Bandara Haji Asan Sampit ditutup permanen. Namun, kondisi jalan yang belum beraspal dan bergelombang masih menjadi keluhan pengguna.

Selain permukaan jalan yang tidak rata, debu beterbangan saat kendaraan melintas dalam cuaca kering. Minimnya penerangan di sejumlah bagian jalan juga membuat pengendara harus lebih waspada, terutama saat melintas pada malam hari.

Udin, salah seorang pengendara yang melintasi jalur tersebut, berharap pemerintah segera meningkatkan kualitas Jalan Bengkirai agar lebih layak digunakan.

“Jalan alternatif Bengkirai kami harap bisa diaspal karena kondisi jalan masih rusak dan bergelombang,” ujar Udin, Sabtu (24/10).

Menurutnya, Jalan Bengkirai menjadi pilihan karena jaraknya dinilai lebih dekat untuk menuju Jalan Tjilik Riwut. Dengan menggunakan jalur tersebut, pengendara sepeda motor dapat menghindari perjalanan memutar melalui Jalan Lingkar Utara.

“Kami lebih memilih lewat Bengkirai karena lebih dekat ke Jalan Tjilik Riwut. Kalau lewat Jalan Lingkar Utara, kami harus naik memutar lagi,” katanya.

Udin memperkirakan panjang ruas Jalan Bengkirai yang perlu ditingkatkan mencapai lebih dari dua kilometer. Ia berharap perbaikan dapat memudahkan mobilitas warga yang menggunakan jalur tersebut untuk bekerja maupun menjalankan aktivitas sehari-hari.

Berdasarkan pantauan di lapangan, permukaan Jalan Bengkirai masih berupa tanah meski terlihat cukup keras. Kondisi yang belum rata membuat pengendara perlu menjaga kecepatan dan berhati-hati saat berpapasan dengan kendaraan lain.

Saat cuaca kering, debu dari permukaan jalan mudah beterbangan dan berpotensi mengganggu kenyamanan pengguna. Sementara ketika hujan, kondisi tanah dapat menyulitkan perjalanan apabila permukaan menjadi licin atau terbentuk lubang.

Persoalan penerangan juga menjadi perhatian. Jalan yang melintasi kawasan perkebunan tersebut tidak seluruhnya memiliki penerangan memadai, sehingga jarak pandang pengendara dapat terbatas pada malam hari.

Di sepanjang jalur, terlihat lahan pertanian dan perkebunan milik masyarakat. Berbagai tanaman, mulai dari buah-buahan, karet, kelapa sawit hingga sayuran, tumbuh di sisi jalan.

Keberadaan lahan tersebut menunjukkan bahwa Jalan Bengkirai juga menunjang aktivitas warga yang berkebun dan mengelola pertanian. Akses yang layak diperlukan agar perjalanan masyarakat menuju lahan maupun untuk keperluan sehari-hari dapat berlangsung lebih nyaman.

Penutupan permanen Jalan Tjilik Riwut di sekitar Bandara Haji Asan Sampit berkaitan dengan pengembangan fasilitas bandara, termasuk rencana perpanjangan landasan pacu atau runway. Perubahan akses itu membuat masyarakat perlu menyesuaikan rute perjalanan sesuai pengaturan lalu lintas yang berlaku.

Di tengah perubahan tersebut, Jalan Bengkirai menjadi salah satu pilihan bagi pengendara sepeda motor. Warga berharap peningkatan badan jalan dan penerangan mendapat perhatian agar jalur alternatif tersebut dapat digunakan dengan lebih aman dan nyaman. (KLIK-RED)

 

Baca Juga

Ikuti Kami