Home Berita Nasional Menkes Imbau Warga Kalteng Kurangi Aktivitas di Luar Rumah, Gunakan Masker N95

Menkes Imbau Warga Kalteng Kurangi Aktivitas di Luar Rumah, Gunakan Masker N95

  Akhmad Syahriansyah   | Sabtu , 24 Oktober 2026
a39bf8697637b9ddf3003e785db7e2f8.jpg
Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin saat mengunjungi Rumah Oksigen Muhammadiyah di Palangka Raya. (Foto : Instagram Budi Gunadi)

KLIK. PALANGKA RAYA – Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin mengimbau masyarakat di Kalimantan Tengah (Kalteng) mengurangi aktivitas di luar rumah saat kualitas udara memburuk akibat kabut asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Warga yang terpaksa beraktivitas di luar ruangan disarankan menggunakan masker N95 untuk mengurangi paparan partikel halus.

Imbauan itu disampaikan Budi saat melakukan kunjungan kerja di Kalteng, Jumat (23/10/2026). Dalam perjalanan menuju Puskesmas Menteng, ia mengaku melihat angka polusi udara mencapai lebih dari 1.000 disertai kabut asap tebal.

“Sebaiknya teman-teman tinggal di rumah, karena polusinya saya lihat hari ini tinggi sekali. Di atas seribu tadi, dalam perjalanan saya ke sini. Dan saya juga lihat, tebal juga,” ujar Budi kepada awak media.

Ia meminta masyarakat lebih waspada, terutama kelompok rentan seperti balita, lanjut usia, dan ibu hamil. Selama kualitas udara masih buruk, kelompok tersebut disarankan menghindari aktivitas di luar ruangan.

Bagi warga yang harus keluar rumah, Budi mengimbau penggunaan masker N95. Kementerian Kesehatan (Kemenkes) disebut telah menyalurkan 137 ribu masker jenis tersebut untuk membantu melindungi masyarakat dari paparan polusi udara.

Menurut Budi, salah satu ancaman utama kabut asap adalah partikel halus PM2.5 yang berukuran sangat kecil dan dapat masuk jauh ke saluran pernapasan.

“Saya sampaikan kenapa mesti N95? Karena polusinya yang paling tinggi adalah polusi partikel, PM2.5. Itu kecil partikelnya. Itu bisa menembus kalau kita pakai masker biasa,” jelasnya.

Ia mengingatkan masyarakat agar menggunakan masker dengan benar. Masker harus menutupi hidung dan mulut serta terpasang rapat tanpa celah di bagian tepinya agar dapat menyaring partikel secara optimal.

Kemenkes juga akan memberikan edukasi melalui media sosial mengenai cara menggunakan masker yang tepat.

Di tengah kondisi tersebut, Budi turut menyampaikan perkembangan kasus infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) selama periode karhutla. Menurut data yang dipaparkannya, pada awal kejadian jumlah kasus ISPA yang tercatat di tujuh provinsi mencapai sekitar 12.000 hingga 15.000 kasus per hari.

Angka itu kemudian turun menjadi sekitar 3.000 kasus per hari pada hari sebelum pernyataan tersebut disampaikan. Meski demikian, masyarakat diminta tetap waspada terhadap gejala gangguan pernapasan selama paparan asap masih berlangsung.

Budi mengatakan, ISPA dengan gejala ringan umumnya dapat ditangani di rumah dengan istirahat cukup, mengonsumsi air yang memadai, dan mengurangi paparan asap. Namun, masyarakat perlu segera mencari pertolongan medis apabila mengalami gejala berat.

Salah satu tanda bahaya yang perlu diwaspadai adalah sesak napas saat sedang beristirahat atau tidak melakukan aktivitas fisik.

“Saya sampaikan kondisi harus segera diperiksakan jika muncul tanda bahaya, terutama sesak napas saat sedang beristirahat atau tidak melakukan aktivitas fisik. Semua harus melakukan itu, termasuk wartawan. Sehat-sehat selalu ya,” pungkasnya.

Selain menyampaikan peringatan kepada masyarakat, Budi mengapresiasi kesiapan Pemerintah Provinsi Kalteng dalam menghadapi dampak karhutla. Menurutnya, pemerintah daerah telah melakukan persiapan untuk mendukung penanganan masalah kesehatan masyarakat di tengah ancaman kabut asap.

Di sisi lain, perlindungan kesehatan masyarakat perlu berjalan beriringan dengan akses layanan medis dan upaya penanganan karhutla. Selama kualitas udara belum membaik, warga diimbau terus memantau kondisi lingkungan, membatasi paparan asap, dan segera memeriksakan diri jika mengalami gangguan pernapasan.

(KLIK-RED)

 

Baca Juga

Ikuti Kami