KLIK. SAMPIT – Jemaat Gereja Huria Kristen Batak Protestan (HKBP) Parulian Sampit tetap melaksanakan ibadah Minggu di bawah tenda darurat, Minggu (25/10). Bangunan gereja mereka di Jalan Ir. Soekarno Lingkar Utara, Sampit, terbakar pada Sabtu (17/10), sehingga sejumlah fasilitas ibadah tidak lagi dapat digunakan.
Tanpa atap dan perlengkapan yang memadai, jemaat berusaha menjalankan ibadah di tengah kabut asap yang masih menyelimuti Sampit. Sejumlah peralatan yang sebelumnya digunakan untuk mendukung kegiatan gereja, mulai dari organ, sound system, komputer, laptop hingga perlengkapan pelayanan, ikut hangus terbakar.
Pendeta HKBP Parulian Sampit, Pdt. Jhonson R.D. Simaremare, mengaku suasana ibadah kali ini terasa menyedihkan. Jemaat yang biasanya beribadah di dalam bangunan gereja kini harus menyesuaikan diri dengan kondisi yang serba terbatas.
“Kalau boleh saya jujur, ibadah ini sangat-sangat menyedihkan di tengah-tengah kondisi gereja yang benar-benar hancur. Kami beribadah di tenda dan juga cuaca yang dipenuhi dengan asap,” tuturnya seusai ibadah.
Meski demikian, Jhonson berharap ada pihak yang tergerak membantu pemulihan gereja agar jemaat dapat kembali beribadah di tempat yang layak.
“Kami yakin dan percaya Tuhan akan mengetuk hati-hati orang yang baik yang boleh membantu untuk memulihkan kembali gereja kami, Gereja HKBP Parulian Sampit,” ujarnya.
Kebakaran tersebut tidak hanya menghanguskan bangunan, tetapi juga berbagai perlengkapan penunjang ibadah. Bahkan, kantong persembahan turut terbakar. Untuk tetap menjalankan kegiatan gereja, jemaat kini harus meminjam sejumlah perlengkapan sambil mengupayakan pemulihan fasilitas yang hilang.
Menurut Jhonson, sekitar 70 persen jemaat hadir dalam ibadah Minggu pagi. Jumlah itu belum sebanyak biasanya karena kondisi gereja yang belum pulih dan kabut asap yang mengganggu aktivitas warga.
“Kalau ini, saya pikir 70 persen kehadiran jemaat kita. Memang tidak maksimal, tapi kita harus juga maklum karena kondisi asap dan juga ibadah ini pasti memakan waktu,” katanya.
Kabut asap juga memengaruhi kegiatan sekolah Minggu. Anak-anak belum dapat mengikuti kegiatan seperti biasanya. Pihak distrik gereja telah mengirimkan bantuan masker, sementara sejumlah orang tua berinisiatif memakaikan masker kepada anak-anak mereka.
Jhonson berharap kondisi tersebut tidak mengganggu kesehatan anak-anak yang mengikuti kegiatan ibadah.
Di tengah upaya menjalankan ibadah dengan fasilitas seadanya, kebutuhan untuk membangun kembali gereja menjadi pekerjaan besar yang harus dihadapi jemaat.
Ketua Pembangunan Gereja HKBP Parulian Sampit, Rintar Sianturi, mengatakan kebutuhan dana untuk pembangunan fisik sementara, termasuk material dan upah tukang, diperkirakan mencapai Rp460 juta. Sementara itu, kebutuhan perangkat audio dan perlengkapan ibadah diperkirakan sebesar Rp265 juta.
Perlengkapan yang dibutuhkan antara lain kursi, meja, keyboard, mixer, dan perangkat audio lainnya.
Rintar berharap pemerintah daerah, khususnya Dinas Sosial, dapat melihat kondisi jemaat dan membantu mempercepat penyediaan tempat ibadah yang lebih layak.
“Kami bermohon kepada pemerintah daerah khususnya Dinas Sosial bisa melihat ini. Dan besar harapan kami dibantu dalam waktu segera dan cepat, untuk bisa kami beribadah mendapatkan kenyamanan,” katanya.
Harapan itu juga berkaitan dengan perayaan Natal pada Desember mendatang. Jemaat ingin memiliki tempat ibadah yang lebih layak sebelum perayaan tersebut tiba.
Hingga Minggu (25/10/2026), jemaat belum memastikan apakah ibadah pekan berikutnya tetap dilaksanakan di bawah tenda atau dipindahkan ke lokasi lain. Sementara itu, upaya pemulihan gereja masih menjadi kebutuhan mendesak agar kegiatan peribadatan dapat berlangsung dengan lebih aman dan nyaman. (KLIK-RED)