KLIK.SAMPIT – Harga ikan nila dan bensin menjadi dua komoditas dengan andil terbesar terhadap inflasi tahunan di Sampit, Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim), pada Oktober 2026. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), inflasi year-on-year (y-on-y) mencapai 4,72 persen, sedangkan inflasi bulanan tercatat 0,85 persen.
Dalam Berita Resmi Statistik Nomor 11/11/6202/Th. XX yang dirilis 2 November 2026, BPS mencatat Indeks Harga Konsumen (IHK) Sampit naik dari 108,39 pada Oktober 2025 menjadi 113,51 pada Oktober 2026.
Ikan nila memberikan andil inflasi sebesar 0,55 persen. Sementara bensin menyumbang 0,40 persen. Komoditas lain yang turut mendorong inflasi tahunan yakni emas perhiasan sebesar 0,26 persen, minyak goreng dan cabai rawit masing-masing 0,22 persen, serta kacang panjang sebesar 0,21 persen.
Baca Juga:
Diduga Cabuli Anak 9 Tahun di Sampit, Pria Ditahan Polisi
“Jika dilihat berdasarkan kelompok pengeluaran, makanan, minuman, dan tembakau menjadi penyumbang inflasi terbesar dengan tingkat inflasi tahunan 7,78 persen dan andil 2,85 persen,” ungkap Kepala BPS Kotim Eddy Surahman, Selasa (4/11)
Kelompok transportasi berada di urutan berikutnya dengan inflasi 6,67 persen dan andil 0,60 persen. Disusul perawatan pribadi dan jasa lainnya yang mengalami inflasi 5,95 persen dengan andil 0,39 persen.
Selain inflasi tahunan, tekanan harga juga terlihat dalam perhitungan bulanan. Pada Oktober 2026, inflasi month-to-month (m-to-m) Sampit mencapai 0,85 persen. Daging ayam ras menjadi penyumbang terbesar dengan andil 0,17 persen, disusul ikan nila sebesar 0,14 persen.
Baca Juga:
Pemadaman Listrik Bergilir di Kotim Hari Ini, Berikut Jadwal dan Wilayah Terdampak
Komoditas lain yang turut mendorong inflasi bulanan adalah kacang panjang sebesar 0,07 persen, tomat 0,06 persen, sigaret kretek mesin 0,05 persen, kangkung 0,04 persen, dan angkutan laut 0,03 persen.
Meski demikian, sejumlah komoditas mengalami penurunan harga dan menahan laju inflasi. Pada perhitungan tahunan, telur ayam ras memberikan andil deflasi sebesar 0,13 persen, disusul biaya Sekolah Menengah Pertama sebesar 0,10 persen dan daging ayam ras sebesar 0,06 persen.
Secara kumulatif, inflasi Sampit sepanjang Januari hingga Oktober 2026 mencapai 4,45 persen. Angka tersebut lebih tinggi dibandingkan periode yang sama pada 2025 sebesar 2,40 persen dan 2024 sebesar 0,61 persen.
Baca Juga:
Damkar Evakuasi Anakan Sanca di Baamang, Induk Ular Belum Ditemukan
Tren serupa terlihat pada inflasi tahunan Oktober. Pada 2024 tercatat 1,10 persen, kemudian naik menjadi 2,97 persen pada 2025, hingga mencapai 4,72 persen pada 2026.
Data tersebut menunjukkan tekanan inflasi di Sampit pada Oktober 2026 lebih tinggi dibandingkan dua tahun sebelumnya. Kenaikan harga pada kelompok makanan, minuman, dan tembakau serta transportasi menjadi faktor utama yang membentuk perkembangan inflasi tersebut. (oes)